Tim Periset Kreativitas Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU)-Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Batapai melaksanakan riset lapangan di Desa Dahari Selebar, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, untuk menggali nilai budaya dan sosial dalam tradisi Pesta Tapai dan Mogang yang telah menjadi warisan masyarakat Melayu Batu Bara sejak awal abad ke-20.
Tim yang dipimpin oleh Iqbal melakikan kegiatan lapangan dimulai pada 20 Juli 2025 dengan pengajuan izin resmi kepada perangkat desa, disusul wawancara mendalam bersama Kepala Desa dan sesepuh setempat. Dalam sesi awal tersebut, tim berhasil merekam sejarah lisan mengenai asal-usul pesta yang diyakini telah berlangsung sejak tahun 1920-an.
Wawancara dilakukan secara personal dan kontekstual, bahkan tim mendatangi narasumber ke tempat aktivitas sehari-harinya seperti di kebun demi menjaga keakraban dan kenyamanan. Cara ini terbukti efektif menghasilkan informasi yang lebih autentik dan mendalam mengenai genealogi tradisi.
Pada hari kedua (21 Juli 2025), tim melanjutkan periset dengan mewawancarai tiga pedagang yang berpartisipasi langsung dalam Pesta Tapai. Dari mereka, tim memperoleh perspektif ekonomi dan sosial yang menunjukkan bagaimana tradisi ini turut menggerakkan sektor UMKM desa, khususnya melalui penjualan produk khas seperti tapai, lemang, karas-karas, dan kembang loyang.
Temuan awal menunjukkan bahwa Pesta Tapai tidak hanya berfungsi sebagai ritual budaya, tetapi juga menjadi wadah gotong royong, silaturahmi, dan penggerak ekonomi masyarakat lokal.
Kegiatan riset berlanjut pada 16–17 Agustus 2025, dalam tahap pendalaman data. Tim kembali ke Desa Dahari Selebar untuk mewawancarai para tokoh adat, budayawan lokal, serta pelaku tradisi. Melalui wawancara terarah ini, diperoleh pemahaman lebih dalam tentang nilai-nilai simbolik, sosial, dan religius yang terkandung dalam tradisi mogang dan pesta tapai.
Hasil riset memperlihatkan bahwa pesta ini menjadi ruang silaturahmi, simbol identitas Melayu, sekaligus bentuk adaptasi budaya terhadap perubahan zaman. Selain wawancara, tim juga melakukan observasi partisipatif, mencatat perilaku dan interaksi warga selama prosesi pesta berlangsung. Seluruh data kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak NVivo 15 untuk mengidentifikasi tema-tema utama dalam struktur sosial-budaya masyarakat Batu Bara.
Sesepuh Desa Dahari Selebar, Bapak Mawardi Nur Ahmad, menjelaskan bahwa tradisi pesta tapai bermula dari kebiasaan masyarakat menyembelih kerbau menjelang bulan Ramadan, yang dikenal dengan istilah mogang atau membantai.
“Pada masa itu, pedagang dari daerah Purba datang membawa kerbau untuk dijual. Saat malam hari, mereka meminta warga membuatkan tapai untuk menghangatkan tubuh. Dari situlah tapai menjadi hidangan khas, dan lama-kelamaan berkembang menjadi pesta rakyat tahunan,” ujar Mawardi.
Menurutnya, pesta tapai yang dulu hanya berlangsung tiga hari kini bisa dirayakan hingga dua hingga tiga minggu, dilengkapi dengan pasar malam, hiburan rakyat, serta kuliner khas Melayu Batu Bara.
Meski bentuk dan sarana perayaan telah berubah dari warung papan beratap rumbia menjadi tenda modern dengan lampu hias semangat kebersamaan dan gotong royong tetap menjadi jiwa dari acara tersebut.
“Pesta tapai bukan sekadar hiburan, tetapi juga simbol rezeki, silaturahmi, dan perpaduan nilai adat serta keagamaan,” tambahnya. Sebagian hasil kegiatan bahkan disalurkan untuk mendukung kegiatan keagamaan di masjid dan musholla.
Mawardi juga menuturkan, sempat ada masa ketika pesta ini “tercemar” oleh hiburan malam dan minuman keras. Namun kini, berkat kerja sama masyarakat dan aparat desa, pesta tapai telah dikembalikan ke nilai-nilai luhur yang mencerminkan adat dan religiusitas masyarakat Melayu Batu Bara.
Ketua Tim PKM-RSH Batapai Iqbal menyatakan bahwa riset ini menjadi pengalaman lapangan yang sangat berharga. Mereka tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga berusaha memahami makna dan dinamika sosial-budaya di balik setiap praktik tradisi.
“Kami melihat langsung bagaimana Pesta Tapai menjadi ruang silaturahmi dan penguat identitas masyarakat Melayu Batu Bara,” tulis tim dalam pernyataannya.
Tim juga menegaskan bahwa seluruh kegiatan dilakukan dengan menjunjung tinggi etika riset, menghormati adat dan kenyamanan narasumber. Bagi mereka, riset sosial bukan sekadar mengumpulkan informasi, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap kehidupan dan budaya masyarakat lokal.
Melalui hasil riset ini, tim berharap dapat berkontribusi nyata dalam pelestarian budaya daerah serta memperkuat kesadaran generasi muda tentang pentingnya memahami dan menjaga warisan budaya bangsa.
“Tradisi Pesta Tapai adalah cerminan identitas dan daya tahan budaya Melayu Batu Bara. Ia tetap hidup karena dijaga bersama oleh masyarakat yang percaya pada nilai kebersamaan dan religiusitas,” tutup tim PKM-RSH Batapai.

