Sebanyak 300 karateka dari 16 dojo mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Perguruan Karate-Do Tako Indonesia Pengurus Cabang (Pengcab) Kota Pematangsiantar, Minggu (27/9/2026).
Digelar di Gedung Serbaguna Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar, UKT tersebut menjadi momentum untuk mengukur perkembangan kemampuan para karateka sekaligus memperkuat proses pembinaan atlet sejak usia dini.
Bukan sekadar menguji kemampuan teknik, UKT juga menjadi bagian penting dalam membentuk karakter, kedisiplinan dan mental para karateka agar tidak hanya tangguh di atas matras, tetapi juga memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Panitia UKT, Reinhard Silalahi, DAN V, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah untuk kembali membangkitkan kejayaan Perguruan Karate-Do Tako Indonesia, khususnya di Kota Pematangsiantar.
Menariknya, Reinhard bukan sosok yang asing dengan dunia pertandingan. Ia juga merupakan atlet karate yang pada masanya pernah mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Karate Piala Kasad. Pengalaman sebagai atlet tersebut menjadi bekal tersendiri dalam mendorong lahirnya karateka-karateka muda Tako yang memiliki mental dan kesiapan bertanding.
“Harapan saya ke depan Perguruan Karate-Do Tako Indonesia kembali ke masa jayanya seperti dulu. Kita akan kembali mencetak atlet Tako yang siap tanding di berbagai event lokal, nasional, dan internasional,” ujar Reinhard.
Menurutnya, pengalaman sebagai atlet membuat dirinya memahami bahwa perjalanan menuju prestasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknik, tetapi juga kedisiplinan, mental bertanding, ketekunan dan karakter.
Karena itu, para karateka muda diharapkan tidak menjadikan UKT sekadar sebagai kewajiban untuk naik tingkat, melainkan sebagai proses untuk terus memperbaiki diri dan mempersiapkan diri menghadapi pertandingan.
Reinhard juga menekankan pentingnya memegang teguh Tri Cita Utama yang menjadi pedoman dalam Perguruan Karate-Do Tako Indonesia, yakni Perkasa, Rendah Hati dan Luhur Budi.
“Kita berpesan kepada para kohai agar selalu rendah hati, disiplin dan beretika seperti Tri Cita Utama: perkasa, rendah hati dan luhur budi,” katanya.
Ia menegaskan, seorang karateka tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan fisik dan kemampuan teknik. Karakter dan etika harus berjalan seiring dengan kemampuan bela diri.
“Kalau seorang karateka Tako memahami Tri Cita Utama, maka dia akan menjadi seorang karateka sejati yang siap di situasi apa pun,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi Teknik, Joni Purba, DAN V, menyampaikan bahwa UKT merupakan bagian dari evaluasi terhadap hasil latihan para karateka di masing-masing dojo.
Melalui ujian tersebut, para karateka dapat mengetahui sejauh mana teknik yang telah dikuasai sekaligus menemukan bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki.
“Sebagian sudah bagus. Kalau ada yang kurang, tim penguji akan menyampaikan kekurangannya untuk selanjutnya dilakukan perbaikan,” ujar Joni.
Ia juga mengingatkan para karateka agar tidak mengabaikan gerakan-gerakan dasar. Menurutnya, penguasaan teknik dasar merupakan fondasi penting sebelum seorang karateka mengembangkan kemampuan ke tingkat yang lebih tinggi.
Sekretaris kegiatan sekaligus Sekretaris Pengcab Tako Pematangsiantar, Suryadi, DAN V, didampingi Bendahara Meico Batubara, DAN IV, menjelaskan bahwa UKT kali ini merupakan UKT triwulan II.
“UKT triwulan pertama digelar di Michigan, Juni 2026 kemarin,” kata Suryadi.
Dengan melibatkan sekitar 300 karateka dari 16 dojo, UKT Karate-Do Tako Pematangsiantar diharapkan menjadi bagian dari proses pembinaan berkelanjutan untuk mencetak generasi karateka yang tidak hanya mampu menguasai teknik, tetapi juga memiliki disiplin, mental juara dan karakter kuat.
Dari proses latihan dan ujian inilah diharapkan lahir atlet-atlet muda Tako Pematangsiantar yang kelak mampu mengharumkan nama daerah di berbagai kejuaraan, mulai dari tingkat lokal hingga nasional dan internasional.(*)

