Menekuni budidaya jamur tiram, selain mampu mendongkrak roda perekonomian juga mendukung ketersediaan makanan sehat.
Seperti budidaya jamur tiram yang dijalankan di Jalan Gotong Royong, Kelurahan Sukadame, Kecamatan Siantar Utara yang berawal dari keisengan pemilik untuk berbudidaya jamur tiram tersebut.
Mudah dikembangkan dan menguntungkan, budidaya jamur tiram mulai dilirik kawula muda di pematangsiantar. sejak Maret 2018 usaha budidaya jamur tiram yang dikembangkan anak muda ini sudah menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Michael Situmorang pemuda jalan gotong royong parualasan,ini menyebut kan awalnya ia coba-coba membuat usaha jamur tersebut. Namun keisengannya tersebut bisa menghasilkan uang yang cukup lumayan.
“Kalo dari segi modal gak begitu beratlah bg,jelasnya kepada wartawan newscorner.id. Harga satu kemasan baglog (kemasan bibit jamur tiram) di belinya seharga Rp,4000 an harganya,” demikian ia mengisahkan pada Minggu (27/5) ditemui di rumah yang juga tempat budidaya jamur tiram miliknya.
Isi dari kemasan baglog tersebut terbilang simple di dalamnya hanya skam kayu (bekas potongan kayu) dedak,(bahasa daerah) dan kapur sirih.
Kemudian kemasan tersebut di semai di rak rak bambu yang sudah di tata rapi kemudian di susun baglog bibit jamur selama kurang lebih 40 hari menunggu hasil panen,kemudian setelah 40 hari sudah mulai tampak hasilnya, kalau mengenai perwatan terbilang cukup mudah, cukup menyemprot kan air yang sudah di campur vitamin tertentu, lalu di semprot kan itu saja.
“Karena masih merintis, lahan budidaya tak begitu luas. Namun selama 3 bulan jamur tergolong cepat pertumbuhannya,” ujarnya.
Setiap hari pihaknya bisa panen jamur, walau sehari hanya 3 sampai 5 kilogram. “Lumayan, harga di pasaran antara Rp 20 sampai Rp 25 ribu per kilogramnya,” lanjutnya.
Bicara omzet, ateng (michael situmorang) mengaku masih belum tetap. Namun yang jelas jika dirata-rata budidaya jamur bisa menghasilkan lebih dari Rp 5 juta per bulan.
Dukungan yang diberikan, kata dia, juga sebagai upaya mengubah mindset pemuda yang berpikir ke luar daerah adalah satu-satunya jalan untuk memperbaiki perekonomian keluarga.
“Di daerah sendiri juga bisa bahkan lebih menguntungkan dibanding bekerja ke luar daerah, yaitu dengan berwirausaha,” ujarnya. (Ridho)


Discussion about this post