Gerakan etnis simalungun yang saat ini telah melakukan beberapa kali aksi turun ke jalan. Menyuarakan pemakzulan Walikota Pematangsiantar, patut kita apresiasi. Namun perlu juga kita perhatikan ke utuhan kota ini, supaya jangan menjadi catatan sejarah yang buruk kedepannya, kota toleransi berujung pada kota rasisme juga.
Hal tersebut disampaikan Fawer Full Fander Sihite
(Mantan Ketua GMKI Siantar-Simalungun)pada Jumat (10/8) sore kepada Newscorner.id.
“Kita tidak melarang atau keberatan dengan adanya peran kontrol sosial yang dilakukan oleh beberapa pihak, tetapi keutuhan kota ini juga harus menjadi prioritas yang paling penting,” sampainya.
Ia pun menilai sebaiknya langkah-langkah kekuatan hukum tetap dilakukan terlebih dahulu, sehingga bukan ujuk-ujuk DPRD buat pansus, dan terkesan hanya didesak massa.
“Kita akan dukung penuh jika persoalan yang diusung adalah tentang kasus KKN dari wali kota, namun jika tentang kasus kesalah pahaman komunikasih sebaiknya diselesaikam dengan komunikasi,” tegasnya.
Fannder pun menyarankan kepada Walikota dan sahabat etnis simalungun agar duduk bersama dan kota ini kembali bersih dari isu rasisme.
“Marilah kita gunakan pendekatan persuasif agar kota ini lebih baik. Alanglah lebih baiknya jika kita duduk bersama bukan dalam keadaan bertikai tetapi dalam posisi membicarakan pembangunan di kota Siantar,” himbaunya.(rel)




Discussion about this post