Upaya memperkuat ketahanan pangan dengan mengoptimalkan sumber daya lokal terus didorong melalui kolaborasi antara Yonif TP 905/Tuan Syah dan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar melalui Pusat Studi Kebijakan Publik dan Politik (PUSTAKA NOMMENSEN).
Kali ini, perhatian diarahkan pada potensi pengembangan garam rakyat di wilayah pesisir Manduamas, Kabupaten Tapanuli Tengah. Potensi tersebut dikaji secara ilmiah untuk mengetahui sejauh mana air laut setempat layak menjadi bahan baku produksi garam rakyat.
Pengkajian tidak hanya dilakukan melalui observasi lapangan. Tim juga mengambil sampel air laut dari sejumlah lokasi untuk selanjutnya dianalisis di laboratorium. Langkah ini dinilai penting agar potensi garam rakyat dapat diketahui berdasarkan data dan kajian ilmiah.
Danyonif TP 905/Tuan Syah, Letnan Kolonel Inf Sabar Marihot Simanjuntak, S.Hub.Int., M.Tr.Mil., mengatakan sumber daya lokal harus dipandang sebagai bagian dari kekuatan ketahanan pangan sekaligus peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
«“Potensi lokal perlu kita lihat dan kembangkan. Karena itu, kami mendorong potensi garam rakyat ini dikaji secara ilmiah bersama perguruan tinggi agar dapat diketahui potensinya dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.»
Menurutnya, wilayah pesisir Manduamas memiliki sumber daya air laut yang berpotensi untuk diteliti lebih lanjut. Namun, kelayakan air laut sebagai bahan baku garam tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan kondisi yang terlihat secara kasat mata.
“Karakteristik dan kualitas air laut harus dibuktikan melalui analisis laboratorium. Karena itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi penting untuk memperoleh hasil yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pusat Studi Kebijakan Publik dan Politik Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Rindu Erwin Marpaung, mengatakan tim peneliti mengambil sampel air laut dari sejumlah titik di wilayah pesisir Manduamas.
Pengambilan sampel dilakukan di Pantai Sago, Pantai Tapus, Pantai Biru, Pantai Sindeas, dan Pantai Afdeling.
“Pengambilan sampel pada beberapa titik ini penting agar kita tidak hanya melihat kondisi air laut dari satu lokasi. Setiap titik dapat memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga data yang diperoleh nantinya dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai potensi bahan baku garam di wilayah Manduamas,” jelas Rindu.
Ia menegaskan, penelitian tersebut tidak semata-mata bertujuan menghasilkan angka dari hasil uji laboratorium. Lebih jauh, kajian diharapkan mampu menjawab apakah sumber daya air laut Manduamas benar-benar memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku garam rakyat, bagaimana kualitasnya, serta bagaimana peluang pengembangannya secara berkelanjutan.
«“Yang ingin kita bangun bukan sekadar angka hasil laboratorium. Data tersebut harus dapat menjawab pertanyaan yang lebih besar: apakah sumber daya air laut di Manduamas memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku garam rakyat, bagaimana kualitasnya, dan seperti apa peluang pengembangannya secara berkelanjutan,” terang Rindu.»
Menurutnya, apabila hasil penelitian menunjukkan potensi yang layak, pengembangan garam rakyat akan memiliki dampak yang lebih luas. Bukan hanya menyangkut aspek teknis produksi, tetapi juga berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, ketahanan pangan, tata kelola sumber daya pesisir, hingga penyusunan kebijakan pemerintah daerah.
Karena itu, hasil kajian diharapkan tidak berhenti sebagai data laboratorium. Temuan tersebut nantinya dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah pengembangan potensi garam rakyat di Manduamas secara lebih terarah dan berbasis bukti.
Kolaborasi Yonif TP 905/Tuan Syah dengan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar melalui PUSTAKA NOMMENSEN menjadi langkah strategis dalam mempertemukan potensi wilayah, pengetahuan akademik, dan pemberdayaan masyarakat.
Dari pesisir Manduamas, gagasan ketahanan pangan pun diperluas. Ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai sektor pertanian, tetapi juga kemampuan daerah mengenali, meneliti, mengembangkan, dan mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Kajian potensi garam rakyat ini menjadi langkah awal untuk melihat kemungkinan menjadikan air laut Manduamas sebagai salah satu sumber daya ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Dengan pendekatan ilmiah dan kolaborasi lintas sektor, potensi yang selama ini berada di pesisir diharapkan dapat diubah menjadi peluang nyata bagi masyarakat, sekaligus mendukung penguatan ketahanan pangan dan ekonomi lokal. (*)



