Kolaborasi GDD, JM3 dan FOKSI Gelar Silaturahmi Nasional Ekonomi Keumatan di Pondok Pesantren Tebu Ireng
Gerakan Daulat Desa (GDD), Jaringan Masyarakat Muslim Membangun (JM3) dan Forum Komunikasi Santri Indonesia (FOKSI), melaksanakan Silaturahmi Nasional Ekonomi Keumatan Berbasis Pesantren di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang-Jatim, Kamis (13/12).
Menjadi pembicara pada silaturahmi yang diirangkai dengan dialog itu, Penggerak Ekonomi Kerakyatan, Ir Mindo Sianipar yang juga anggota Komisi IV DPR-RI, Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), dihadiri seluruh pengurus dan pengelola Pondok Pesantren Tebu Ireng, serta kepala unit usaha binaan Tebu Ireng.
Ketua Umum JM3, Syaiful Amin Lubis yang menjadi moderator saat memulai dialog, mengatakan, kegiatan itu merupakan cikal bakal Kebangkitan Ekonomi Keummatan Berbasis Pesantren Sebagai Ikhtiar Mewujudkan Indonesia Berdikari.
Dia menerangkan, cikal bakal itu lahir dari diskusi panjang di kalangan penggiat GDD, JM3 dan Foksi di Jakarta, kemudian bekerja sama secara khusus dengan Pondok Pesantren Tebu Ireng.
“ Betapa tidak, kebangkitan ekonomi keummatan, semakin hari dirasakan menjadi magnit penting dari arah perekonomian bangsa Indonesia masa depan, di tengah semakin merebaknya polarisasi ekonomi sekular-kapitalis dan ekonomi sosialis-komunis yang cenderung semakin mengkhawatirkan,” pungkasnya.
Dia menambahkan, fakta sejarah memperlihatkan bahwa ekonomi sekular-kapitalis dan sosialis-komunis sangat tidak cocok dengan tujuan Indonesia merdeka, khususnya semangat sila ke-5 Pancasila yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
“Ketidakcocokan yang menyebabkan, selama ini, dalam dinamika perpolitikan di Indonesia, ekonomi keummatan cenderung terombang ambing sekedar menjadi barang dagangan politik belaka,” ujarnya.
Melahirkan Santri Mandiri dengan Bergotong Royong
Ketua Umum FOKSI, Muhammad Natsir Sahib, menambahkan, jika ditelisik ke belakang, tidak dapat dipungkiri, bahwa dalam era awal pergerakan kebangsaan di Indonesia, bahkan jauh hari sebelum kemerdekaan, berdirinya Syarikat Dagang Islam pada tahun 1905, diketahui menjadi fondasi berdirinya Gerakan Politik Syarikat Islam.
“Dari semangat membangun perekonomian ummat melalui Syarikat Dagang Islam inilah, para pendiri Nahdhatul Ulama (NU) yang pada akhirnya lahir tahun 1926, mendirikan Syarikatul Innan Nahdhatul Hujjan jauh hari sebelumnya, tepatnya pada tahun 1920,” sebutnya.
“Artinya, embrio berdirinya NU tidak luput dari semangat kebangkitan ekonomi. Di sisi lain, walaupun berperan sebagai lembaga pendidikan agama, Pondok Pesantren di Indonesia, acapkali menanamkan spirit melahirkan santri-santri yang mandiri ekonomi, sosial, dan budaya dengan semangat gotong royong. Spirit ini dinilai cenderung positif sebagai ikhtiar dalam mewujudkan cita Indonesia Berdikari,” pungkasnya lagi.
Sinergi Penguatan Ekonomi Keummatan melalui Pesantren
Ketua GDD, Charles HM Siahaan, mengungkapkan, KH Salahuddin Wahid, dimata GDD merupakan tokoh panutan dan guru bangsa. Bahkan, Gus Solah merupakan bahagian dari inisiator GDD.
Sedangkan, Mindo Sianipar dimata GDD merupakan tokoh penggerak ekonomi kerakyatan di bidang pertanian, perkebunan, kelautan, perikanan. Sehingga, perlu duduk bersama dengan dua tokoh tersebut, bersilaturrahim dan berbincang-bincang dengan menyebutnya sebagai Dialog Solutif Kebangkitan Ekonomi Keummatan Melalui Pesantren Sebagai Ikhtiar Mewujudkan Indonesia Berdikari.
“Bagi GDD, desa dan pesantren memiliki hubungan erat, kalau ditamsilkan, seerat hubungan GDD dan Gus Sholah. Pesantren dengan spirit membangun santri atau SDM yang mandiri dan sejahtera, sinergis dengan semangat kedaulatan desa di bidang ekonomi, politik, dan budaya. Sinergis juga dengan semangat Indonesia berdikari yang dicitakan oleh bangsa Indonesia,” katanya.
“GDD sangat mendukung spirit penguatan ekonomi keummatan. Dan semoga dialog semakin menambah khazanah dan ruang sinergi bagi penguatan ekonomi keummatan melalui pesantren,” tegas Charles lagi.
Mindo Sianipar, saat memaparkan pemikirannya, bahwa bangkitnya ekonomi pesantren sama dengan kebangkitan ekonomi rakyat. Semua dimulai dari pikiran. Namun harus didukung dan diketahui oleh seluruh elemen, baik swasta maupun pemerintah.
“Yang pasti bagaimana semua orang bisa punya penghasilan dan memperoleh pekerjaan untuk kelangsungan hidupnya,” ujarnya.
Menurut Mindo, pesantren sangat penting untuk berorganisasi agar semua peran bisa dimiliki pesantren.
“Semua memang butuh proses dan komitmen pimpinan organisasi, pesantren dan pemerintah,” tukasnya.
Sedangkan KH Salahudin Wahid, mengatakan, beberapa minggu lalu, sarjana lulusan pesantren Tebuireng dikirim ke sejumlah pabrik baru untuk mengikuti pelatihan atau magang.
“Amalan yang mereka dapat di pabrik semoga bisa dimanfaatkan,” ucapnya.
Gus Sholah, sapaan akrab adik kandung Gus Dur ini menjelaskan, tidak mudah merubah pola pikir dan minat santri untuk berwirausaha. Melalui dialog dan dorongannya ini, diharapkan akan menumbuhkan motivasi tersendiri bagi santri sebagai pengusaha.
“Tidak semua orang punya minat berwirausaha, rata-rata inginnya jadi PNS, dan di Pesantren kami sudah lama mencoba untuk memanfaatkan potensi yang ada, baik dalam sumber daya yang ada atau SDM nya, memang tidak mudah,” pungkasnya.
Usai menggelar dialog, Gus Solah berkesempatan memberikan cinderamata berupa pemasangan peci dan serban kepada Mindo Sianipar, sebagai wujud silaturahmi yang akan terus berlangsung.
Selanjut, Mindo Sianipar bersama rombongan GDD, JM3 dan FOKSI, menuju areal pemakaman Ponpes Tebuireng. Di lokasi tersebut, mereka menggelar doa dan tabur bunga di makam Presiden Indonesia ke-4 KH Abdul Raham Wahid (Gus Dur), hingga pendiri pesantren Hadratus Syek KH Hasyim Asy’ari. (manto/snc)




Discussion about this post