Tentang emansipasi dan kesetaraan gender di republik ini telah dibuktikan oleh wanita asal Pematangsiantar Sumatera Utara ini. Dengan kerja keras dan disiplin yang tinggi, Dr (Cand) Sariguna H Simanjuntak ST MT, mampu “menaklukkan” prbedaan dan menembus sekat-sekat.
Ia bukan yang pertama, namun apa yang dicapai atas perjuangan dan kerja kerasnya akan menjadi inspirasi bagi kaum hawa. Wanita, tak hanya di dapur, sumur dan kasur.
Kisahanya menjadi inspirasi, ia layak disebut Kartini zaman now atau Kartini Millenial.
Berbincang dengannya tak pernah membosankan. Ada saja pembahasan menarik yang menjadi topik obrolan. Seperti siang itu, saat penulis menemuinya di ruang kerjanya, di kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Cipta Karya Pematangsiantar Dinas SDA, Cipta Karya, dan Tata Ruang Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Jalan Merdeka Pematangsiantar.

Sariguna H Simanjuntak ST MT, itu nama lengkapnya. Perempuan berambut panjang ini tengah mengambil studi Strata Tiga (S-3) jurusan Ilmu Arsitektur dan Perkotaan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU).
“Doctor candidate?” tanya penulis.
“He he he… Ya, saya suka belajar. Nggak harus formal. Belajar bisa di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa aja,” katanya penyuka warna hijau ini.
Sari, demikian ia biasa disapa, merupakan anak Siantar. Lahir dan besar, serta menghabiskan masa sekolahnya mulai SD hingga SMA di kota terbesar kedua di Sumut ini.
“Jadi saya Siantar Man. Makanya, jadi kebanggaan tersendiri bagi saya karena ditempatkan bertugas di kota kelahiran saya sendiri,” kata alumni SMA Negeri 4 Pematangsiantar ini lagi.
Lulus SMA, anak kedua dari enam bersudara ini melanjutkan pendidikannya di Universitas Katolik St Thomas Medan, jurusan Teknik Sipil. Ia merasa tertantang untuk kuliah di jurusan teknik sipil karena sejak sekolah sangat menyukai pelajaran matematika.
Setelah meraih gelar S-1, Sari mengikuti ujian peneriman Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu). Dan, lulus.
“Itu tahun 2002. Baru pertama kali ikut tes, langsung lulus. Saya pun kemudian ditempatkan di Kabupaten Tapanuli Tengah,” kenang Sari, yang mengaku sangat bersyukur bisa lulus CPNS secara murni.
“Saya lulus CPNS nggak ada pakai uang”
Tiga tahun Sari berkarir di Tapanuli Tengah (Tapteng), yakni hingga tahun 2005. Selanjutnya, ia pindah tugas ke Dinas PU Perumahan dan Permukiman Pemko Medan.
Dua tahun kemudian, Sari mendapat beasiswa untuk meneruskan pendidikan Strata Dua (S-2) dari jalur Beasiswa Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Saat itu, katanya, ia dan keluarganya merasa takjub atas karunia Tuhan. Sebab ia bisa mendapat beasiswa untuk kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di ITB, ia mengambil jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota.
“Saat itu tahun 2007, saya satu-satunya perwakilan dari Sumut yang mendapat beasiswa dari Bappenas,” tukas Sari yang motto hidupnya adalah Ora et Labora (Bekerja sambil Berdoa).
Pulang ke Sumut dengan mengantongi gelar Magister Teknik (MT) dari ITB, Sari lgsg ditugaskan ke Pemprovsu. Ia ditempatkan di Dinas PU.
“Kalau jenjang karir yang sudah saya jalani mgkn sudah banyak sekali. Yang pasti saya benar-benar merintis karir, hingga sampai pada jabatan sekarang ini,” ujarnya.
Diakui Sari, bidang pekerjaan yang dijalaninya sebenarnya identik dengan dunia laki-laki. Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi ibu seorang anak ini.
“Sejak kuliah kan sudah bergaul dengan mayoritas laki-laki. Kalau untuk pekerjaan, saya tetap profesional, bekerja sesuai tupoksi, disiplin dan tetap mau belajar,” terang wanita berambut panjang ini.
Sari tidak menampik, dirinya sebagai perempuan dan bertubuh mungil , terkadang diragukan karena bekerja di dunia laki-laki. Hanya saja, dia tidak peduli dengan penilaian negatif dari orang-orang di sekelilingnya. Justru itu dijadikannya motivasi untuk terus bekerja dan berkarya.
“Pembuktian inteligensi itu yang penting. Yang diadu kan bukan otot, tapi kemampuan bekerja dan otak. Kalau mau adu otot, ya di ring tinju,” ujarnya lagi, sambil mempersilahkan penulis minum.
Hal itu bukan omong kosong. Buktinya, dari 17 orang Kepala UPT di Dinas SDA, Cipta Karya, dan Tata Ruang Provsu, Sari merupakan satu-satunya perempuan. Kini, sebagai pimpinan di kantornya pun, anggota Sari lebih banyak laki-laki. Dari 23 orang pegawai, hanya ada 6 orang perempuan. Selebihnya, sebanyak 17 orang adalah laki-laki.
“Bahkan, ada yang usianya sudah di atas saya. Mereka rata-rata Sarjana Teknik,” ujar wanita berkulit putih ini.
“Saya perempuan, tapi sepanjang karir saya di ASN, saya belum pernah dipimpin seorang perempuan,” sebutnya.
Dalam bekerja, Sari senantiasa berusaha all out. Jika ada masalah, malam-malam pun ia tetap datang ke kantor untuk menyelesaikan.
Sebagai Kepala UPT, wilayah kerja Sari tidak hanya Kota Pematangsiantar, namun mencakup juga Kabupaten Simalungun, Kota Tebingtinggi, dan Kabupaten Batubara. Dengan wilayah tugas yang sangat luas itu, Sari mengaku sejauh ini tidak ada kendala berarti. Ia tetap turun ke lapangan meninjau ke lokasi pengerjaan proyek-proyek.
“Sudah satu tahun saya dengan jabatan ini. Sejauh ini, pekerjaan kami lancar dan aman,” sebut Sari, seraya menambahkan dalam menjalankan pekerjaannya ia selalu bersinergi dengan pemerintah kabupaten/kota, khususnya Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda).
“Jangkauan pekerjaan saya, ya pembangunan drainase, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM, penataan lingkungan, mengawasi bangunan-bangunan milik pemerintah, dan hal-hal yang berhubungan dengan kecipta karyaan lainnya,” terang Sari, dan menambahkan untuk tahun 2020 pihaknya akan menata Taman Bunga/Taman Merdeka Pematangsiantar dan Taman Kehati yang berada di dekat rumah dinas Walikota Pematangsiantar.
Bagi Waktu untuk Keluarga
Sukses di pekerjaan, sebagai wanita tetap saja kembali ke kodrat. Di kantor, sebagai pemimpin, di rumah menjadi ibu rumah tangga.
“Di karir sebagai ASN, saya sudah Eselon III. Sampai di rumah, ya kembali ke kodrat, ibu rumah tangga. Mengurus keluarga, termasuk menemani anak belajar,” beber Sari, yang menjadwalkan setiap Sabtu merupakan hari untuk keluarga. Biasanya ia mengajak keluarganya berkumpul, jalan-jalan, makan-makan, dan lainnya. Itu semua, sambungnya, sekaligus untuk melepas kejenuhan.
“Semua harus seimbang, di karir dan di keluarga. Bagi saya, waktu 24 jam sehari itu sebenarnya tidak cukup untuk melakukan semuanya,” tambahnya.
Diakui Sari, sebagai working mom, ia tidak bisa sepenuhnya mengawasi anak. Apalagi, saat ini anaknya tinggal dan bersekolah di Medan. Sedangkan ia bertugas di Pematangsiantar.
“Anak saya sudah mulai beranjak remaja. Sebentar lagi lulus SD. Tentunya butuh lebih banyak perhatian. Saya tidak selalu tahu apa yang dikerjakannya, untungnya teknologi komunikasi saat ini sudah canggih karena sudah bisa video call,” terangnya.
Saat ini si anak lulus masuk sekolah berasrama terbaik selepas lulus SD.
“Saya masukkan dia sekolah di Bogor, di salah satu SMP terbaik di Indonesia. Itu dia yang minta sendiri. Saya hanya berusaha memastikan itu memang pilihannya. Saya bangga dia lulus di sana, bulan Juli mulai sekolah. Ya bagaimanapun, anak saya harus bisa lebih baik dari saya,” tukas perempuan yang hobi membaca buku Chicken Soup for Soul ini.
Ke depan, apa yang menjadi impian dan harapan?
“Untuk jangka pendek, pastinya wisuda S-3 ya. Kebetulan saat ini saya sedang dalam proses disertasi. Kemudian, tetap eksis di karir. Yang pasti, sebagai anak Siantar, tentunya saya ingin bisa memberikan sesuatu untuk kota ini melalui peranan saya sebagai abdi negara,” katanya yakin. (*)


Discussion about this post