Sejumlah mahasiswa Politeknik Gihon bersama orangtua berunjukrasa di kampus yang berada di Jalan Bahagia Kelurahan Kristen Kecamatan Siantar Selatan Kota Pematangsiantar, Jumat (25/9/2020). Mereka menuntut pengembalian ijazah mereka, yaitu SD, SMP, dan SMA yang selama ini ditahan pihak kampus.
Aksi unjuk rasa ini kali kedua digelar, setelah yang pertama Senin (21/9/2020). Hanya saja saat itu, tidak ada orangtua yang ikut aksi.
Dalam orasinya, koordinator aksi Andre Napitupulu mengatakan mereka menuntut agar Politeknik Gihon ditutup. Mereka ingin keluar dari kampus dan meminta ijazah SD, SMP, dan SMA yang ditahan pihak kampus agar dikembalikan.
Masih kata Andre, mereka sudah enggan kuliah di Politeknik Gihon karena pihak kampus ingkar janji. Sebelumnya, dijanjikan uang kuliah gratis hingga lulus. Namun kenyataannya tidak seperti itu.
Selain itu, setiap mahasiswa diwajibkan membawa dua calon mahasiswa baru ke Politeknik Gihon. Padahal yang seperti itu tanpa ada perjanjian di atas materai antara mahasiswa dengan pihak kampus.
Selanjutnya yang paling krusial adalah, Politeknik Gihon belum terakreditasi di Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).
“Terkait akreditasi, sudah dibenarkan Direktur Politeknik Gihon,” tukas Andre.
Masih kata Andre, pihak kampus bersedia mengembalikan ijazah mereka asalkan mahasiswa membayar biaya administrasi sebesar Rp300 ribu, sesuai yang tertera di berkas serah terima ijazah. Lalu, mahasiswa harus membayar segala kerugian yakni uang kuliah sejak awal masuk sebesar Rp5 juta per tahun.
Sedangkan bagi mahasiswa Bidikmisi, harus mengembalikan uang Bidikmisi ke kampus jika ingin mengambil ijazah asli SD, SMP, dan SMA/SMK.
“Setelah kami berunjukrasa, pihak kampus menambah syarat untuk mengambil ijazah, yaitu membayar kerugian karena sudah merusak nama baik kampus,” keluh Andre.
Salah seorang orangtua mahasiswa, J Silaban mengatakan anaknya memang sudah tidak mau lagi melanjutkan kuliah di Politeknik Gihon.
“Sejak awal digratiskan, kenapa sudah di tengah jalan diminta membayar? Kita nggak terima. Kalau bayar, ngapain kita kuliahkan anak kita di sini? Pasti ada lagi kampus yang lebih baik dari sini,” tukasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan dari pihak yayasan terkait tuntutan dan aksi itu(Aldy)


Discussion about this post