Oleh:Ummu Rafly
Sudah hampir 18 bulan negeri ini dilanda covid-19, hal ini membuat dunia pendidikan membuat kebijakan sekolah daring (online). Beralihnya proses belajar mengajar dari sekolah menjadi dirumah membuat para orang tua kewalahan menghadapi anak-anaknya saat mengerjakan tugas yang diberikan dari sekolah.
Tak terasa sekolah daring sudah berjalan lebih dari 1 tahunan, hal ini membuat banyak perubahan pada kepribadian anak, hari-hari anak sekolah selalu ditemani gadgetnya apalagi kalau bukan karna tugas sekolahnya tapi lama-lama anak banyak berubah pada pola fikir dan sikapnya.
Anak-anak cenderung malas berfikir ketika menemukan soal yang sulit dari sekolahnya dan sikap juga berbeda dari biasanya anak lebih banyak menyendiri ketimbang berinteraksi dengan teman- temannya.
Banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan gadget yang berangsur terlalu lama.Banyak hari ini para anak didik yang menjadi lebih banyak bermain game online ketimbang mengerjakan tugas dari sekolahnya.
Minimnya informasi dari guru dan orangtua siswa tentang tugas sekolah membuat anak-anak merasa bosan dengan tugas-tugas yang diberikan,hal ini dipicu berkurangnya waktu pembelajaran sehingga guru tidak maksimal menyampaikan materinya.
Gonta ganti kurikulum pendidikan pun membuat anak merasa pusing dan jenuh hingga akhirnya meremehkan pendidikan itu sendiri.Alhasil anak-anak didik pun memilih bersenang- senang dengan gadget yang ada ditangannya.
Gadget bertujuan untuk akses belajar daring malah digunakan untuk bermain game online.Jika kondisi ini terus dibiarkan mampukah generasi muda ini menjadi harapan bangsa ditengah arus liberalisasi dan kapitalis?
Generasi Muda Candu Gadget Ditengah Liberalisasi Dan Kapitalisme
Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa RSUD Dr. Soetomo, dr. Yunia Setiawai, Sp.Kj. menjelaskan tren gaming disorder ini terjadi enam bulan terakhir dengan pasien yang didominasi anak-anak.
Anak-anak awalnya terpapar gadget lalu menyebabkan pembiasaan dan berakhir dengan kecanduan. Pandemi semakin memperparah kondisi tersebut. Sulitnya anak-anak hari ini lepas dari gadget disebabkan minimnya pengawasan orangtua terhadap penggunaan gadget pada anak.
Arus sekuler yaitu pemisahan agama dan kehidupan membuat para orangtua tidak memahami ajaran agamanya secara kaffah,sehingga orangtua tidak mampu mengajarkan pada anak tentang syari’at Allah SWT tentang batasan pergaulan sehingga dampaknya anak bebas mengakses konten apapun di gadgetnya.
Dinegeri yang menganut sistem ekonomi kapitalis industri hiburan yang menyuguhkan berbagai macam kesenangan mengundang banyak peminat menjadi platform ekonomi bangsa menjadi bisnis hanya berorientasi pada profit tidak peduli hal tersebut haram selama menghasilkan keuntungan maka bisnis itu dianggap sah.
Begitu pun fitur-fitur gadget dan aplikasi game online yang menjamur, kontennya hanya menyuguhkan kesenangan unfaedah. Bisnis syahwat yang membuat candu, malah seolah sengaja disuntikkan kepada anak-anak muda.
Karena anak-anak muda adalah huge market bagi bisnis syahwat, kecanduan di mata pebisnis ala kapitalis dimaknai sebagai cara dalam menjaga loyalitas konsumennya.
Cara Islam Melahirkan Generasi Cemerlang Membangun Peradaban
Penerapan Islam secara kaffah akan mendukung terciptanya generasi cemerlang. Keberhasilan mencetak generasi unggul, setidaknya bisa dilihat dari dua faktor. Pertama, pendidikan yang berlandaskan akidah Islam.
Sehingga arah, tujuan, kurikulum, dan metode penerapan kurikulumnya akan senantiasa mengacu pada akidah Islam. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk kepribadian Islam dan membekali anak-anak dengan tsaqafah Islam.
Maka,saat pandemi pun bisa dilakukan karena ajarannya yang aplikatif dan tidak teoritis.Selain itu, pendidikan dalam Islam bertujuan untuk melahirkan teknologi atau sumbangsih yang bermanfaat bagi masyarakat.
Seperti gadget, teknologi canggih ini akan menghadirkan fitur-fitur yang bermaslahat bagi umat bukan malah menciptakan mudarat. Kedua, sistem ekonomi Islam akan menciptakan atmosfer bisnis yang sesuai syariat dan akan menghilangkan bisnis hiburan yang berorientasi syahwat dan kesenangan duniawi semata.
Fitur-fitur gadget, termasuk aplikasi game online yang melenakan manusia pada kelalaiannya beribadah akan dihilangkan. Bisnis yang akan menjamur dalam ekonomi Islam adalah bisnis yang menghantarkan penduduknya pada ketakwaan.
Kedua faktor di atas tentu tak bisa lepas dari peran penguasa yang amanah dan sistem pemerintahan yang berlandaskan Islam dalam naungan khilafah. Mustahil akan terlahir generasi yang gemilang di tengah arus kapitalisasi dan liberalisasi hari ini.
Oleh karena itu, sudah selayaknya kaum muslim bersegera mewujudkan tatanan kehidupan yang Islam. Agar terlahir darinya generasi yang siap membangun peradaban mulia.
Allahua’lam bisshawab




Discussion about this post