Di tepi bengawan, pada suatu sore yang pengap. Kau mendekapku di ujung pembicaraan dan berbisik, jika aku pergi apakah kau akan di sini? Bertahanlah sehari atau dua hari di rumahku. Kita berjalan di jalan yang sama dengan tujuan yang sama dan di rumah yang sama. Jadi, kukatakan bahwa aku akan bersamanya pada hari itu. Kau adalah lelaki yang sederhana dan kau adalah milik semua orang, sekalipun ada yang menghardik dan mengejekmu karena menjadi penyendiri!
Dan, setibanya di rumahmu, aku bertanya: akan sebagai apa orang-orang seperti kita ketika mati kelak? Berapa harga kita di dunia ini? Bagaimana jalannya? Kau bergeming, membaringkan badan. Tidak ada sesenti pun sudut untuk Sastra Kita di negeri ini, tetapi negeri ini selalu hidup dalam Sastra Kita. Jadi kita tidak akan mati sebagai apa-apa? Ya. Selagi kau tidak menulis! Jadi kita tidak memiliki harga? Ya. Selagi kau berharap hidup dari tulisanmu. Jadi tidak ada jalannya? Ada. Kau yang menentukan. Dan, Nurel, kawanku, kau telah menentukan jalanmu dengan pesakitan yang membuatmu meninggalkanku, selamanya!
Kira-kira, bagaimana aku bisa menghibur hatiku, Saudara sekalian? Atau bagaimana aku bisa berpura-pura mengikhlaskan kematiannya dengan ungkapan “kematiaan adalah takdir”? Bagaimana jika aku membiarkan perasaanku hancur? Atau, mengatakan bahwa ada kematian yang dibuat manusia?! Dengan demikian, apakah dia menjadi bagian darimu? Atau aku, barangkali? Tidak perlu kau jawab sekarang. Dia meninggalkan pekerjaan yang tidak selesai dan itu menjadi tanggungjawab kami.
Jadi, sembari membiarkan perasaanku hancur, aku menyelesaikan sepilihan esei tentang kesaksianku saat bersamanya; kesaksian-kesaksian sunyi yang terakhir dan harus kulanjutkan. Oleh karena itu, kukatakan kepadamu bahwa kami, Penerbit Dalam Gang, sayap ekonomi alternatif Toko Buku Dalam Gang yang diinisiasi pemuda Surabaya, Gresik, dan Lamongan (dia) telah membuka Pre-Order buku “Kertas-kertas Kesunyian: Sepilihan Esei Kesaksian” karya Muhammad Yasir per 11-30 September 2021.
Dan, semua hasil penjualan akan diserakan kepada Javissyarqi Muhammadah, anak lelaki Nurel Javissyarqi yang paling kecil. Salam!
Surabaya, 2021.




Discussion about this post