Akhir-akhir ini sejumlah ‘polemik’ terjadi di Kota Siantar, hingga berujung adanya aksi demostrasi dari sejumlah elemen.
Menyikapi kondisi ini, Pemko Siantar melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Budi Utari Siregar dan Kabag Humas Hamam Soleh menggelar bincang-bincang dengan para wartawan di Cafe 26 Jalan Senam, Kecamatan Siantar Barat, Minggu (6/5/2018) jelang sore.
Awalnya Hamam Soleh menuturkan, dalam pertemuan ini ada 3 hal yang disampaikan. Yang pertama mengenai kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke 50 dan Festival Nasyid tahun 2018 yang dibuka Walikota, Hefriansyah.
Soleh menuturkan, MTQ bukan sekedar lomba untuk mencari juara, namun lebih dalam lagi menggali nilai-nilai Islam dan memasyarakatkan nilai-nilai Alquran untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, menyikapi situasi aksi demo dari berbagai elemen, Pemko Siantar telah menyiapkan langkah-langkah termasuk mencoba membuka ruang dialog.
“Kita mengajak media untuk sama-sama menciptakan suasana kondusif melalui suatu pemberitaan,” kata Soleh seraya menuturkan, guna meningkatkan sinergitas antara Pemko Siantar dengan insan pers dan sudah diwacanakan kedepannya.
Sementara Budi Utari mengatakan, sejak awal dirinya dilantik menjadi Sekda, sudah mengajak insan pers bersinergitas dengan Pemko dan sama-sama membangun Siantar.
Namun pasca pelantikan, dinamika yang terjadi naik turun dengan munculnya beberapa persoalan di Siantar.
Budi menuturkan, terkait adanya aksi dari Suku Simalungun, Wali Kota Hefriansyah sudah mau membuka ruang dan berkeinginan menemui secara langsung.
“Namun mereka hanya sebentar saja di Pemko Siantar dan melanjutkan aksi ke DPRD. Meski begitu, kita tetap berupaya hadir. Hanya saja massa meminta bertemu dengan legislatif. Untuk menjaga situasi tetap kondusif, kita pun tarik diri,” sebut Budi Utari sembari menyampaikan, dalam rentang waktu itu, Pemko Siantar tetap membuka ruang untuk berdialog.
Mengenai gerbang Kantor Wali Kota yang tertutup saat aksi berlangsung, Budi Utari menyampaikan, bukan keputusan atau arahan dari Pemko Siantar.
“Kemungkinan itu protap dari pihak Kepolisian mengingat massa aksi yang disampaikan katanha mencapai 5 ribu orang,” terang Sekda.
Pihaknya juga sudah menjawab ke Komite Nasional Pemuda Simalungun Indonesia (KNPSI) secara tertulis, dengan harapan pasca jawaban tersebut ruang dialog bisa terbuka.
Terkait HUT Siantar, Budi menuturkan, Pemko sudah mengundang seluruh Suku Simalungun. Hanya saja yang hadir dalam pertemuan itu tidak seperti harapan.
“Kalau nanti kita jawab, takutnya ada yang tersinggung. Demi menjaga suasana yang kondusif, maka pertemuan itu dibatasi dan tidak dipublikasikan terlalu jauh,” ujarnya.
Bahkan sebelumnya, road show atas nama dan arahan Wali Kota, Budi Utari juga menemui tokoh-tokoh Simalungun. Dia juga menuturkan, sebenarnya ada beberapa tokoh Simalungun yang simpatik terhadap Pemko Siantar.
Mengenai pembahasan pembangunan Tugu Sangnaualuh sudah masuk dalam agenda Pemko Siantar. Dalam waktu dekat akan ada rapat bersama dengan stakeholder dan aparatur pemerintah.
“Siapa saja yang mau atau memiliki insiatif, ide atau gagasan dalam memajukan Siantar, kita selalu membuka diri. Saya jatuh cinta pada Siantar sama. Kalau bisa cinta itu tak bertepuk sebelah tangan,” tutup Budi.(***)




Discussion about this post