Setelah enam kali melakukan aksi unjuk rasa atau demo, Aliansi Pedagang Balimpel (Balerong Kaki Lima Kios Tempel) melakukan aksi demonstrasi di halamam Kantor walikota Siantar Jumat (11/5) sekitar pukul 13:00 WIB.
Sebelum ke kantor walikota peserta aksi berjalan membawa keranda yang ditempeli gambar Walikota Siantar Hefriansyah serta membawa bendera sambil menyanyikan lahu “orang pinggiran”.
Sesampainya dihalaman kantor walikota, kordinator aksi Fawer Full Fander Sihite dalam orasinya menegaskan
mereka sangat mengecam tindakan pengecut Hefriansyah selaku walikota Siantar, yang tidak berani berdialog dengan pedagang.
Selain itu mereka juga satu suara untuk mengusir Benni Sihotang Plt Dirut PD PHJ dari kota Siantar, karana dinilai sebagai dalang pembangunan yang memiskinkan pedagang.
Fawer menegaskan tidak akan pernah mundur, bertabur darah, bahkan menyerahkan nyawa pun demi perjuangan ini kami siap, jika pihak pemerintah kota Pematangsiantar masih tetap memaksakan Pembangunan
Mereka juga mengatakan kepada pemerintah kota Siantar sudahilah membohongi rakyatmu, hanya untuk mendapatkan uang demi memperkaya diri sendiri.
Balimpel juga mendesak walikota segera keluarkan surat pembatalan pembangunan revitalisasi pasar horas yang meliputi Balerong, kaki lima, dan kios tempel.
Sementara itu pemerintah kota Siantar melalui Sekdakot Budi Utari menegaskan bahwa tidak ada pembangunan, tanpa ada kesepakatan, Hingga saat ini peserta aksi masih berada dihalaman kantor walikota Siantar.
Tolong percayakan kepada kami. Kalau untuk membatalkan tentu ada proses. Yang jelas, tuntutan pedagang akan jadi pertimbangan utama. Kami tegaskan, tidak akan ada kegiatan pembangunan di PD Pasar Horas Jaya sampai lebaran,” cecar Sekda.
“Batalkan, batalkan, batalkan,” teriak para pedagang serentak di depan balai kota pematangsiantar”
Mendengar itu, Fawer Fander meminta pihak Pemko membuat pernyataan yang ada kata ‘membatalkan’.
“Supaya bisa kami pegang cakap bapak, satu kalimat dari bapak, katakanlah pembangunan itu kami batalkan, tidak ada pembangun tanpa persetujuan pedagang. Gitu aja bapak bilang, supaya bisa kami pegang,” cecarnya.
Dan pedagang yang rata rata kaum ibu ibu juga berteriak kami akan lakukan aksi lampar telur ke pemko. (Ridho)




Discussion about this post