Tumpukan tepung yang ‘menggunung’ serta keringat yang bercucuran akibat suhu panas yang dihasilkan oleh kompor produksi, tak membuat ibu-ibu dari beragam usia kehilangan semangat untuk mengolahnya menjadi kulit lumpia.
Hal itu, berlangsung setiap hari di sebuah tempat di kawasan Silau Mange, Kelurahan Mekar Nauli, Kecamatan Siantar Marihat.
Senin (28/5), Newscorner.id berkesempatan untuk mengikuti proses pembuatan olahan kulit lumpia bermerk “Dandy Abadi”.
Pantauan di lokasi tersebut pada pukul 11.00 Wib, warga di kawasan tersebut tampak telah mahir dalam pembuat kulit lumpia. Karena itu pula, wilayah tersebut dijuluki sebagai Kampung Kulit Lumpia, yang mana para pekerjanya merupakan penduduk asli setempat.
Cara pembuatan kulit lumpia pun terbilang cukup sederhana. Mulai dari tepung terigu yang dicampur dengan air dan garam, kemudian diaduk hingga kental. Selanjutnya, adonan itu dioleskan di atas wajan yang panas tanpa minyak. Kurang dari satu menit, lembaran tipis tersebut langsung diangkat dan jadilah kulit lumpia.
Setiap harinya masin-masing keluarga mampu membuat 3.000 lembar kulit lumpia. Harganya pun bervariasi, tergantung dari ukurannya. Mulai dari Rp 3 ribu hingga Rp 4 ribu per bungkusnya. Tergantung besar-kecilnya ukuran kulit lumpia.
Berawal belajar membuat lumpia dari Pulau Jawa, Harianto Wibowo akhirnya nekat membuka usahanya sendiri. Dia membawa segala pengalaman yang ia tahu ke kampungnya sendiri. Perlahan ia bangun usaha yang baru pertama dan mungkin satu-satunya di Kota Pematangsianatar.
“Mulai saya kerjakan sendiri sekitar enam bulan pertama hingga kemudian satu demi satu saya mengajari ibu-ibu tetangga untuk ikut bekerja. Dari yang semula satu sak tepung baru habis sepekan sampai kini sehari delapan sak habis untuk memenuhi pesanan pasar,” terangnya.
Harianto mengaku memilih membuka usaha di Pematangsiantar lantaran dirinya menginginkan suasana baru. Di samping itu, ia juga berniat memberdayakan ibu-ibu di sekitar rumahnya.
Saat ini kulit lumpia yang diproduksinya sudah memenuhi pasar. Mulai dari pasar di Pematangsiantar sampai Medan, Binjai, Kisaran hingga Rantau Prapat.
Dalam sehari usaha kulit lumpia ini menghabiskan sedikitnya lima sak tepung yang didatangkan langsung dari pabrik. Keuntungan yang didapat mencapai jutaan Rupiah per harinya. Pekerjaan membuat kulit lumpia ini dibagi menjadi beberapa tim.
Satu tim terdiri dari dua pekerja. Satu yang menuangkan adonan, satunya lagi mengambil adonan yang sudah matang. Satu tim menghadapi empat wajan. Sehari dalam satu tim saja bisa memproduksi 1.000 lembar. Per 100 lembar, mereka dihargai berbagai macam jenis upah yang di terima.
Menurut seorang pembuat kulit lumpia, usaha itu kali pertama dilakukan di Pematangsiantar pada tahun 2014. Kemudian usaha itu berkembang dan diikuti warga lain. Pesanan kulit lumpia akan meningkat hingga 100 persen pada masa libur sekolah bulan Ramadhan atau Hari Raya Lebaran pungkasnya. (Ridho)


Discussion about this post