Mendidik dan membesarkan anak menjadi orang yang berbakti bagi nusa dan bangsa adalah impian mayoritas orang tua. Demikian juga yang diimpikan Aiptu Rukur Sidabutar, Anggota Polres Dairi, Polda Sumatera Utara ini.
Memiliki enam orang anak dari hasil pernikahannya dengan Elizabeth Christina Siahaan, Aiptu Rukur Sidabutar kini tersenyum bahagia. Meski ia hanya Bintara Polisi, namun tiga anak laki-lakinya kini telah berhasil dididik dan dibesarkannya menjadi perwira militer TNI.
Lettu Inf Erizal Zuhry Sidabutar STr.Han anak keduanya lulus dari Akmil 2011-2015 saat ini ditugaskan di Satuan Gultor Kopassus Cijantung. Anak keempat, Letda Inf Prawira Guntara Sidabutar STr.Han lulusan Akmil 2013- 2017 kini ditugaskan di Kostrad 509 Jember dan satu orang lagi anak ke-limanya Letda Mar Rizky Akbar Sidabutar STr.Han AAL 2015-2019 baru dilantik 16 Juli 2019 kemarin.
Sementara anak sulungnya, Ericzhon Sidabutar saat ini bertugas sebagai ASN di Pemkab Dairi. Putrinya Yustiti F Sidabutar telah menikah dengan seorang prajurit Praka Rustono Ta Yon 125/Simbisa Ki B Sidikalang, lalu putrinya yang bungsu Six Wanda Sidabutar saat ini masih menjalani bangku perkuliahan.
Suka duka menjadi anggota Polri telah ia jalani, membesarkan dan menyekolahkan enam orang anak dengan status Bintara Polisi. Aiptu Sidabutar pun mengisahkan saat itu membiayai keluarganya dengan gaji pas-pasan, di mana Polisi kala itu belum mendapat remunerasi.
Ia pun memilih untuk mencari tambahan penghasilan dari menanam jeruk dan sang istri memelihara ayam. Setiap sore anak -anaknya secara bergiliran mengantarkan pakan ayam dari rumah mereka di Asrama Polisi Sidikalang ke kandang yang jaraknya sekitar enam kilometer.
“Hidup harus berjuang keras walaupun sudah ada gaji, mencari yang halal saya tidak pernah malu,” sebut Aiptu Rukur Sidabutar

Keberhasilan Aiptu Rukur Sidabutar mendidik anak-anaknya pun menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Aiptu Rukur Sidabutar yang dihubungi Newscorner.id pun membuka sedikit polanya mendidik anak mereka.
“Bapak keras, ibunya lembut. Bapak marah kalau anak pulang malam di atas jam 20.00, lah kapan belajarnya. Saya tidak mengijinkan merokok, bergaul dengan anak nakal apalagi yang terlibat Narkoba. Keempat anak laki-laki ini sampai sekarang tidak berani merokok walau sudah dapat gaji,” papar Aiptu Rukur Sidabutar
Sementara sang ibu menuntun dari kecil dan memberikan peralatan bila si anak hobby olah raga. Tak lupa Elizabeth Christina Siahaan mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya.
“Ya Lae, anak-anak lahir dan besar di Sidikalang semua, kami hidup dengan gaji yang pas-pasan, sebelum remon (remunerasi) hadir. Pinjaman BRI ku sampai pensiun habis Lae. Ada sedikit tambahan dari kebun jeruk sejak 2018 s/d sekarang. Kotoran ayam dari kandang ayam istri ku gunakan jadi kompos ke ladang jeruk dan dibantu anak-anak untuk mensuplainya,” cerita Aiptu Rukur.
Kisah Sang anak yang Lulus Akmil dan Hampir Putus Asa
Anak-anak disuruh membantu ayahnya saat libur ,bila pekerjaan ayahnya di ladang belum selesai. Tak hanya itu, kata Aiptu Rukur, mereka pun harus membantu memberi makan dan mendirikan kandang ayam.
“Anak tugasnya sore hari bergiliran memberi nasi ayam ke kandang,” kisah Aiptu Rukur.
Lettu inf Erizal Zuhry Sidabutar yang dihubungi Newscorner.id menyampaikan perjuangannya masuk Akademi Militer dan bagaimana support dan dukungan orangtuanya.
Dididik dengan pola displin serta kerja keras dari masa kanak-kanak membuat ia dan saudaranya memiliki semangat baja.
“Bapak itu mendidik dengan keras, ia sangat disiplin dan pekerja keras. Saya ingat saya ingat, dari kecil kami dibuatkan jadwal. Mulai pagi bangun tidur sampi tidur malam ada jadwal masing-masing,” kisah Erizal.
Namun ia pun tak menampik bahwa peranan ibunya sangat lah besar. mengingat sang ayah yang banyak habiskan waktu menjalankan tugas sebagai Anggota Polri dan mencari tambahan beternak ikan.
Di keluarga mereka diterapkan sistem “Reward and Punishman”.
“Kalau kami mau minta sesuatu itu tidak gampang, kalau kami ada prestasi dikasih hadiah, trus kalau salah ada sanksi yang diberikan,”
Dalam meniti karirnya di dunia militer, Erizal telah melalui beberapa tahapan yang bahkan hampir membuatnya putus asa.
Dikisahkannya, pada Tahun 2008 ia lulus SMA dan mencoba untuk ikut test Akademi Militer di tahun 2010, namun ia gagal di tingkat pantohir pusat.
Gagal di sana ia dapat rekomendasi prioaritas untuk masuk Sekolah Calon Bintara (Secaba). Kesempatan itu pun ia ambil. Namun ia kembali gagal di tingkat akhir.
“Gagal masuk akmil saya dapat prioritas Bintara. Saya ambillah, tapi saat itu di pantohir pusat kesehatan saya dinyatakan bermasalah. Itu udah tinggal sidang bang. Saat itu lah saya merasa sngat hancur dan tak punya harapan. Down dan nyaris putus asa,” kisah Erizal.
Ia pun kembali ke kampung halamannya di Dairi dan berkebun membantu orang tua. Namun ia tak sendiri, ada orangtuanya yang memberi semangat dan motivasi. Ia pun kembali mencoba test Akmil di Tahun 2011.
“Orang tua menasehati dan memberikan motivasi kepada saya. Saya pun mencoba untuk ikut test di Tahun 2011 dan akhirnya diterima,”tuturya.
Dikisahkannya, pada Tahun 2008 ia lulus SMA dan mencoba untuk ikut test Akademi Militer di tahun 2010, namun ia gagal di tingkat pantohir pusat.
Gagal di sana ia dapat rekomendasi prioritas untuk masuk Sekolah Calon Bintara (Secaba). Kesempatan itu pun ia ambil. Namun ia kembali gagal di tingkat akhir.
“Gagal masuk akmil saya dapat prioritas Bintara. Saya ambillah, tapi saat itu di pantaukhir pusat kesehatan saya dinyatakan bermasalah. Itu udah tinggal sidang bang. Saat itu lah saya merasa hancur dan tak punya harapan. Down dan nyaris putus asa,” kisah Erizal.
Ia pun kembali ke kampung halamannya di Dairi dan berkebun membantu orang tua. Namun ia tak sendiri, ada orangtuanya yang memberi semangat dan motivasi. Ia pun kembali mencoba test Akmil di Tahun 2011.
“Orang tua menasehati dan memberikan motivasi kepada saya. Saya pun mencoba untuk ikut test di Tahun 2011 dan akhirnya diterima,”tuturya.
Ia pun menjalani pendidikan di Akademi Militer. Sementara itu adiknya pun termotivasi untuk menikuti jejak sang abang.
Tahun berikutnya adiknya mengikuti test masuk Akademi Militer, namun gagal. Ia pun memotivasi sang adik untuk memperbaiki diri dan menyiapkan bekal pengetahuan dan kemampuan fisik.
“Saya motivasi adik dan bilang kalau kamu mau lulus harus dari diri sendiri. Berusaha melewati nilai standard dan banyak berdoa,” terangnya.
Di tahun berikutnya sang adik mencoba lagi dan diterima pada tahun 2013. Setelah lulus ditugaskan di Kostrad.
Erizal pun berpesan kepada kaula muda agar tetap optimis. “Banyak orang ketika ingin mendaftar Akmil itu mindsetnya bahwa Akmil itu jatahnya anak Jenderal dan orang berduit. Tapi itu tidak benar, kami sudah membuktikannya. Kami dari kampung, bukan anak jenderal dan bukan orang berada. Saat saya lulus ada anak jenderal yang tidak lulus,” bebernya.
Letda Inf Prawira Guntara Sidabutar yang saat ini bertugas di Kostrad ketika dihubungi Newscorner.id membeberkan bahwa ayahnya Aiptu Rukur Sidabutar adalah sosok seorang bapak pekerja keras, tidak pernah mengeluh dan percaya diri bahwa usaha yang dilakukan dengan ikhlas dan sabar akan membuahkan hasil.
“Bapak selalu mengawasi anak-anaknya dalam pergaulan. Bapak melarang anaknya merokok. Lebih mengarahkan ke dunia olahraga,” tuturnya.(Rivay Bakkara)


Discussion about this post