Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pematang Siantar terus melakukan pembenahan untuk menciptakan lingkungan hunian yang nyaman, bersih, dan mendukung proses pembinaan warga binaan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui keterbukaan terhadap aspirasi warga binaan. Berbagai masukan dan kebutuhan yang disampaikan menjadi perhatian Lapas Siantar untuk kemudian ditindaklanjuti melalui langkah-langkah pembenahan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kepala Lapas Kelas IIA Pematang Siantar, Sangapta Surbakti, menegaskan bahwa membangun lingkungan Lapas yang baik harus dimulai dengan kemauan untuk mendengar.
“Dari mendengar, lahir kepedulian. Dari kepedulian, tercipta perubahan,” ujar Sangapta.
Menurutnya, komunikasi yang baik antara petugas dan warga binaan menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana pembinaan yang kondusif. Aspirasi yang disampaikan warga binaan juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui hal-hal yang perlu mendapat perhatian dan perbaikan.
Sangapta juga mendorong seluruh warga binaan untuk ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan hunian. Sebab, lingkungan yang bersih dan tertata tidak hanya menciptakan kenyamanan, tetapi juga mendukung terciptanya suasana pembinaan yang lebih baik.
“Hunian yang nyaman dan bersih merupakan tanggung jawab kita bersama. Petugas dan warga binaan harus memiliki kepedulian untuk menjaga lingkungan,” katanya.
Lapas Siantar terus berupaya membangun budaya kepedulian melalui komunikasi, kebersamaan, dan pembenahan lingkungan. Setiap aspirasi yang diterima menjadi bagian dari proses evaluasi untuk menghadirkan pelayanan dan pembinaan yang semakin baik.
Melalui semangat tersebut, Lapas Kelas IIA Pematang Siantar ingin memastikan bahwa proses pembinaan tidak hanya berorientasi pada keamanan dan ketertiban, tetapi juga pada terciptanya lingkungan yang bersih, nyaman, tertib, dan manusiawi.
Dari Lapas Siantar, perubahan dimulai dengan mendengar. Dari kepedulian bersama, lahir lingkungan hunian yang semakin nyaman dan bersih.

