Irfan Tarigan (41), salah seorang lulusan STM Negeri di Kota Pematangsiantar, merakit sebuah alat yang mampu mengubah limbah organik, seperti sampah plastik menjadi bahan bakar bio solar dan bio bensin.
Sebuah alat yang terbuat dari bahan stenless, ia merakit menjadi alat pemanas. Alat itu baru dikembangkan sekitar dua bulan lalu dan diberi nama destilator.
Irfan Tarigan adalah warga Jalan Family Nagahuta, Kelurahan Setia Negara, Kecamatan Siantar Sitalasari. Ia termotivasi merakit alat ini agar dapat mengurangi sampah plastik yang dapat merusak lingkungan menjadi hal yang bermanfaat.
“Alat ini kita ciptakan untuk mengurangi limbah plastik yang semakin menumpuk. Cara kerjanya, cukup memasukkan bahan plastik kedalam destilator. Setelah itu kita suhunya dinaikan 200 sampai 300 derajat. Nanti, dengan suhu tersebut maka keluar cairan berbahan minyak jenis solar. Kalau kita ubah menjadi premium, suhunya hanya 60 sampai 70 derajat saja,” ungkap pria yang menjadi Ketua Pemuda Batak Bersatu (PBB) Cabang Pematangsiantar tersebut.
Irfan yang ditemui, Selasa (6/10) sekira pukul 13.00 WIB itu menceritakan tentang pengalamannya dalam mengembangkan usaha tersebut. Ia telah mengembangkan alat itu menjadi bahan proses pirolisis. Mekanisme pirolisis, yaitu proses memanaskan plastik tanpa oksigen dalam temperatur tertentu serta teknik destilasi.
“Hasil dari alat pemanas ini, sebenarnya bisa menghasilkan empat bahan bakar minyak, yakni solar, minyak tanah, premium, aftur dan gas. Gas dibakar supaya tidak menjadi racun dan juga tidak berbau. Hasilnya sudah bisa diaplikasikan untuk bahan bakar kendaraan bermotor,” jelas Irfan yang mengaku turut dibantu oleh keluarganya.
Proses alat yang dia kembangkan hanya menghabiskan waktu selama empat jam untuk di olah menjadi bahan bakar. 40 kg sampah plastik yang dimuat dalam alat pemanas dapat menghasilkan 40 liter minyak.
Irfan mengaku alat yang dia temukan terinspirasi saat dirinya pergi merantau keluar Sumatera utara.
” Dulu saya merantau. Saya bersama teman kemudian mendapatkan ide bagaimana caranya agar limbah plastik ini di dapat diubah menjadi sebuah penemuan. Setelah itu kami mulai pelan-pelan mengerjakan nya, sambil melihat video yang ada di Youtube ,” ungkap irfan lagi.
Dari hasil penemuannya itu telah dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari. “Dari dulu pemerintah sangat sulit mengurai limbah plastik, maka dengan cara ini, otomatis mengurangi. Nah, sekarang kita ada formulanya. Kalau pun ada pmerintah yang nantangin, kita ok. Silahkan,” tambahnya lagi.
Diakhir perbincangan, Irfan didampingi saudaranya Hendrik Wijaya (45) berencana akan membuat limbah plastik menjadi paping blok dan kosen jendela. Irfan berharap pemerintah kota Siantar dapat dapat melihat temuannya ini.
“Penemuan patut diapresiasi menjadi sebuah alat yang dapat mengubah sampah plastik. Dari yang merusak ekosistem berubah menjadi bahan bakar yang dapat gunakan. KIta berharap pemerintah peduli dan perhatian atas penemuan ini,” ungkapnya mengakhiri perbincangan.(Aldy S/mel)


Discussion about this post