Kegiatan Belajar Bersama Maestro (BBM) Opera Batak telah ditutup seusai simulasi pertunjukan dari 30 peserta. Simulasi dan penutupan berlangsung di Gedung Nasional Tarutung pada hari Jumat lalu, 12 Oktober 2018, sekitar pukul 17 WIB dengan kehadiran Marco Panggabean, perwakilan kepala sekolah yang mengutus peserta dari 7 sekolah di Tapanuli Utara, orang tua peserta, dan 3 staf (Piet Rusdi, Nasrul O. Hamdani, Angga Rizal Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh – Sumut.
BPNB Aceh – Sumut menyelenggarakan program BBM Opera Batak sejak 29 September 2018 dan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tapanuli Utara. Proses, tahapan, metode belajar hingga melahirkan satu simulasi dari BBM Opera Batak dipercayakan kepada Thompson Hs dan tim dari Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Siantar.
Simulasi menunjukan model pertunjukan Opera Batak yang menggabungkan unsur lakon, musik, lagu, dan tari yang dekat dengan tradisi. Sebelum naskah lakon dituntaskan oleh tim penulis pada 5 Oktober lalu, intensitas belajar cenderung pada praktik musik, lagu, dan tari.
Praktik tari ditangani oleh Septa Turnip dan Tania Surbakti. Sedangkan musik dan lagu ditangani oleh Oktavianus Matondang dengan bantuan Edi Nainggolan dan Samuel Harianja, salah satu anggota Grup Opera Silindung (GOS). GOS merupakan grup percontohan dari hasil Program Revitalisasi Opera Batak yang terlaksana di Tarutung pada tahun 2002 dan kelanjutannya dikawal oleh PLOt sejak 2005.

Semua peserta BBM Opera Batak kelihatan semakin meningkat dalam simulasi dengan naskah lakon “Na I Hasagian”. Naskah lakon ini menceritakan tentang ulos dan petenun dalam situasi kini dan masa lampau. Situasi itu digambarkan dengan teknik flash-back. Ompu Legot (diperankan Aron Tambunan) dan istrinya Boru Namora (diperankan Naomi Hutabarat) hendak menghadiri pesta adat.
Mereka mempersiapkan ulos yang mau dipakai dengan memilih sejumlah dari simpanan di lemari. Melewati rumah mereka, orang-orang juga menuju ke pesta dengan memakai ulos dan asesori yang terbuat dari ulos. Sampai Boru Namora menuju pesta adat lebih awal dan meninggalkan Ompu Legot dengan tiga orang teman yang juga akan ke pesta adat (diperankan Markus Panjaitan, Hasan Sitorus, Ivan Santobasa Sormin), lakon memasuki situasi masa lampau untuk menceritakan seorang gadis petenun bernama Langkitang (diperankan Debi Silitonga).
Langkitang memilih menjadi petenun dan belajar kepada Ompu Kalto (Wahyu Hutapea) dan 2 putrinya petenun (diperankan Shinta Rasnina Girsang dan Indah Sitanggang). Langkitang sebelumnya telah punya hubungan dengan Patundal (diperankan Rynaldi Situmeang). Namun terpaksa berpisah karena Langkitan menyampaikan pernikahannya harus terjadi dengan paribannya. Untuk mengobati kesedihan Langkitang, Patundal menawarkan Mangiring (cucu Ompu Kalto) untuk menggantikannya.
Namun Langkitan juga telah menyambut kehadiran Maruli (diperankan Jeremia Sihombing), seorang yang berjanji akan menikahi Langkitang kalau selesai menenun sejenis ulos pesanannya. Ulos pesanan itu diselesaikan Langkitang dan membuat Patundal marah ketika ulos itu diserahkan kepada Maruli saat Patundal dengan Mangiring menjumpainya. Ompu Kalto mendengar teriakan Langkitang dan menyelesaikan situasi keributan yang sempat terjadi.
Suatu keributan dalam merebut hati Langkitang ditekankan sebagai perilaku bukan anak raja. Dalam kebiasaan Batak Toba sejak dulu selalu ada ungkapan anak ni raja dan boru ni raja untuk mencerminkan perilaku dalam situasi apapun.
Langkitang sebagai seorang gadis petenun tentu punya keraguan tersendiri. Namun dia tidak berhenti sebagai petenun karena soal pasangan hidupnya.
Malahan dia mendorong para petenun untuk meneruskan warisan itu, sebagaimana penekanan awal dari Ompu Legot sebelum situasi masa lampu diceritakan. Ulos terdiri dari banyak nama, warna, motif, panjang, dan lebar selain dari fungsi serta kegunaannya dalam keseharian, ritual, dan adat. Namun pada masa kini posisi ulos perlu ditegaskan kembali di tengah perkembangan sistem pewarisan dan inovasi yang dilakukan.
Opera Batak “Na I Hasagian” yang dihasilkan dari kegiatan BBM Opera Batak mendukung infomasi untuk revitalisasi ulos dan semaraknya perhatian kepada ulos pada tahun-tahun terakhir. Hari ulos pada tahun 2018 ini dilaksanakan bersamaan dengan acara “Indonesiana”.
Satu simposium tentang ulos menjadi bagian dari acara tersebut. Opera Batak “Na I Hasagian” akan ditampilka sebelum simposium mendaulat sejumlah narasumber dan ahli ulos. Simposium akan berlangsung di gedung Sopo Partungkoan Tarutung, 15 Oktober 2018, mulai pukul 09.00 – 17.00 WIB. (REL)




Discussion about this post