Sebanyak 30 pelaku kuliner di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, dinyatakan kompeten setelah mengikuti Uji Sertifikasi Kompetensi Skema Okupasi Cook yang digelar di Gedung Creative Hub Samosir, Rabu (21/10/2026).
Sertifikasi yang dilaksanakan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pariwisata Jana Dharma Indonesia berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan standar kompetensi sumber daya manusia di sektor kuliner daerah.
Dari total peserta, 27 orang di antaranya merupakan pemilik usaha kuliner, dengan beragam bidang usaha, mulai dari produsen bandrek, kue dan bakery, camilan oleh-oleh, kedai kopi, katering, hingga rumah makan yang menyajikan masakan khas Batak.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) dan Sertifikasi Kompetensi yang diselenggarakan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif melalui program Aktivasi Creative Hub 2026 pada 18–21 Oktober 2026.
Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekonomi Kreatif, R. Adi Mukhtar Rivai, saat membuka kegiatan pada Minggu (18/10/2026), menekankan pentingnya kompetensi yang terstandar untuk memperkuat daya saing pelaku ekonomi kreatif.
“Ekonomi kreatif hari ini tidak cukup hanya bermodal bakat. Kita butuh kompetensi yang terstandar, diakui, dan berdaya saing,” ujarnya.
Asesmen Praktik Mengacu pada 19 Unit Kompetensi
Uji kompetensi dilaksanakan melalui asesmen praktik atau unjuk kerja yang dibagi ke dalam dua sesi. Peserta diminta mengolah sekaligus menyajikan hidangan untuk dinilai oleh asesor.
Sejumlah menu yang diujikan meliputi gulai daging sapi, ayam balado, mi gomak, talam gurih, dan pancake.
Penilaian mengacu pada 19 unit kompetensi sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Aspek yang dinilai mencakup kebersihan area kerja, keamanan pangan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pengembangan menu, hingga pengelolaan pastry dan bakery.
Materi tersebut telah dipelajari peserta selama tiga hari pelatihan bersama trainer Minta Harsana dan Slamet Supriyanto sebelum menjalani asesmen.
Sariaman Manik Berharap Inovasi Kuliner Terus Hadir di Samosir
Bagi pelaku usaha, pelatihan dan sertifikasi ini diharapkan menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus memperkuat daya saing di tengah perkembangan industri kuliner dan pariwisata.
Sariaman Leone Manik, pemilik usaha Manik Brothers Coffee, menyampaikan harapannya agar pemerintah terus menghadirkan program pengembangan kapasitas dan inovasi bagi pelaku kuliner di Samosir.
“Jangan bosan-bosan tetap mendatangkan hal-hal baru atau inovasi dari luar Samosir ke Samosir, sehingga kami yang berada di Samosir bisa beradaptasi dan meningkatkan kualitas kulinernya,” katanya.
Ia berharap pelatihan dan sertifikasi tersebut dapat menjadi salah satu modal bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kualitas kuliner lokal secara berkelanjutan.
Menurutnya, kesempatan untuk memperoleh pengetahuan baru dan meningkatkan keterampilan menjadi penting agar pelaku usaha setempat mampu mengikuti perkembangan industri serta memenuhi kebutuhan pasar yang semakin beragam.
Asesor Menilai Samosir Memiliki Potensi Kuliner
Asesor kompetensi, Nur Aulia Wijayanti, mengapresiasi semangat peserta selama mengikuti proses asesmen. Ia menilai kesungguhan peserta dalam menunjukkan kemampuan menjadi salah satu hal yang berkesan selama kegiatan berlangsung.
“Hal yang paling berkesan bagi saya adalah melihat semangat dan kesungguhan para peserta dalam menunjukkan kemampuan terbaiknya. Samosir punya banyak potensi kuliner dan orang-orang hebat yang siap berkembang,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah untuk mendorong tumbuhnya usaha kuliner lokal yang lebih profesional serta memberikan dampak positif terhadap pariwisata dan perekonomian masyarakat Samosir.
“Semoga kegiatan ini menjadi salah satu pintu pembuka bagi tumbuhnya usaha kuliner lokal yang semakin profesional, sekaligus membawa dampak positif bagi pariwisata dan perekonomian masyarakat Samosir,” tambahnya.
Apresiasi serupa disampaikan asesor Wahyu Utomo. Menurutnya, antusiasme peserta dan kebahagiaan mereka setelah dinyatakan kompeten menjadi bagian positif dari pelaksanaan sertifikasi tersebut.
“Melihat senyum peserta yang dinyatakan kompeten memberi energi positif bagi semua. Antusiasme peserta sungguh luar biasa,” katanya.
Pendataan Digital untuk Pembinaan Berkelanjutan
Selain memperoleh pengakuan kompetensi, seluruh peserta juga telah terdaftar di platform SIAPkerja dan Ekraf Hub. Pendataan ini diharapkan membantu mengintegrasikan pelaku kuliner ke dalam ekosistem ekonomi kreatif nasional sekaligus mendukung kesinambungan pembinaan setelah program berakhir.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Samosir, Tetti Naibaho, sebelumnya juga berharap program pengembangan kapasitas dari Kementerian Ekonomi Kreatif dapat terus dilaksanakan.
“Harapan kami, pelatihan dari Kementerian Ekraf tidak berhenti sampai di sini, dan nantinya membawa kemajuan serta kesejahteraan masyarakat, khususnya pelaku ekraf di Samosir,” tuturnya saat pembukaan kegiatan.
Program Aktivasi Creative Hub 2026 sendiri dilaksanakan Kementerian Ekonomi Kreatif di 21 lokasi Creative Hub. Di Samosir, program ini menjadi ruang pembelajaran dan pengembangan kapasitas bagi pelaku ekonomi kreatif setempat.
Dalam sambutannya, Adi Mukhtar Rivai juga mengajak para pelaku ekonomi kreatif memanfaatkan Creative Hub sebagai ruang bersama untuk bertukar pengetahuan, membangun kolaborasi, dan mengembangkan usaha.
“Jadikan Creative Hub Samosir ini sebagai rumah kita bersama. Rumah untuk belajar, berkolaborasi, dan tumbuh bersama,” ujarnya.
Dengan dinyatakannya 30 peserta kompeten, program ini menambah bekal profesional bagi pelaku kuliner Samosir. Tantangan berikutnya adalah menerapkan keterampilan yang diperoleh dalam kegiatan usaha sehari-hari, menjaga konsistensi mutu produk, serta mengembangkan kuliner lokal agar semakin berdaya saing dan mampu mendukung sektor pariwisata daerah.





