Tak cukup kata untuk menggambarkan kesedihan dan duka yang teramat dalam atas tragedi tenggelamnya KM Sinar Bangun pada Senin (18/6) lalu.
Sebanyak dua belas orang kerabat keluarga Ruliana Nainggolan yan belum lama ini pulang ke kampung halaman untuk menghadiri peresmian tugu dinyatakan hilang dalam tragedi naas sore itu.
“12 halak keluargakku mago. Dang tarandungkon ahu be on. Itokku, paramanku, edaku. (12 orang keluargaku hilang. Saudara kandung dan keponakanku,”ujar Ruliana Nainggolan degan air mata yang bercucuran di pipinya.
Setengah terisak-isak perempuan 52 tahun ini menceritakan, ada pun keluarganya yang hilang yakni, Ledikson Nainggolan dan istrinya Lilis Lubis serta ketiga anaknya Bungaran Nainggolan, Asri Nainggolan, Nikolas Nainggolan.
Kemudian Hotman Nainggolan, Dorman Nainggolan, Ledikson Nainggolan, Basaria Nainggolan, Astri Nainggolan, Jonveldi Nainggolan, Nicolas Nainggolan.
Lilis Lubis, Melinton Simatupang, dan Hasiholan Sidabutar. Untuk yang total sekeluarga yakni Ledikson Nainggolan dan istrinya Lilis Lubis serta anaknya Bungaran, Asri Nainggolan, Nikolas Nainggolan.
Menurut Ruli, kedatangan para keluarga di Samosir sebelumnya untuk prosesi pesta tugu. Sehingga, keluarga mereka yang jadi korban pulang ke kampung memboyong anak-anaknya dari Jakarta dan Pematang Siantar.
Beserta keluarga lainnya, Ruliana masih ikut mengantar saudara kandung dan keponakannya ke Pelabuhan Ferry dengan menaiki mobil sekitar pukul 16.00 WIB sore. Kemudian, sebelum kapal berangkat mereka langsung berpisah dan Ruliana meninggalkan pelabuhan untuk bertolak ke Tarutung, Tapanuli Utara.
Namun, malam hari mereka medapat kabar dari Siantar. Masih di Dolok Sanggul, akhirnya mereka memutar arah untuk kembali ke Pelabuhan Simanindo, Samosir.
“Tante, orang bapak berangkat jam berapa. Katanya ada kapal tenggelam,” sebutnya menirukan ketika mendapat kabar buruk itu dari keluarganya di Siantar.
Ruliana menuturkan, sebelumnya dia telah membujuk para keluarga untuk tidak pulang. Bahkan, dia bersikeras agar mereka dapat lebih lama di Samosir dan rencananya diajak ke kediamannya di Tapanuli Utara. Apalagi, sudah lama tidak bertemu.
“Padahal sudah kubilang, daripada kalian capek, jangan pergi. Sehari ini mau ke berwisata ke Bulbul kian kami naik mobil melalui Tele. Ikkon hu siattar jo asa tu Tarutung. Sedih kali, apalagi keponakanku yang kelas empat si Jonveldi sudah minta ikut, tapi gak di kasih bapaknya, ” ujarnya.
Bagi Ruliana dan keluarganya ini nerupakan duka yang sangat mendalam. Katanya, pada perpisahan terakhir sebelum pulang ia berkali-kali mencium keponakannya tersebut lalu memeluk saudaranya.
“Mungkin ini perpusahanku semalam. Aku dipeluk sebelum pulang. Aku sedih kali. Sekelurga dalam lima orang hilang di Danau Toba. Lalu ada yang lain. Aku jumpa sama paraman (mereka) is i sudah sejak kecil,”tambahnya.
Sementara itu, Maria Sidauruk yang juga keluarga dekat korban di Samosir menjelaskan, dia masih melihat kapal naas itu bertolak dari Dermaga Simanindo menuju Tiga Ras.
Saat mulai meningalkan Dermaga, dia dan keluarga yang hilang saling memberikan lambaian tangan terakhir. Perasaanya juga katanya sudah mulaibtidak nyaman melihat kondisi kapal yang kian padat.
“Kapal itu membawa penumpang dengan jumlah yang banyak. Di kiri kanan sepeda motor bahkan berlapis dua,”tutur wanita berkacamata itu.
Seperti yang dia saksikan, ketika hendak menuku Tiga Ras kepala kapal sudah mulai oleng. Lalu ombak yang semakin kencang ditengah danau masih dia lihat dari daratan tengah mengoyang kapal yang padat penumpang dan sepeda motor itu.
“Pas kapal bertolak, aku sudah agak enggak enak. Kukihat padat kali. Terus agak oleng. Habis itu aku pun pergi meninggalkan Pelabuhan Simanindo ini,”ucapnya.(***)
Sumber: Tribunmedan.com


Discussion about this post