Perayaan hari besar Tri Suci Waisak di Yayasan Perguruan Buddhist Manjusri, Pematangsiantar, Sumatera Utara pada Minggu (26/5) berlangsung penuh hikmad. Kegiatan ini dirangkai dengan sejumlah kegiatan yang melibatkan siswa siswi , guru dan orangtua siswa Perguruan Buddhist Manjusri.
Peringatan Waisak begitu penting, karena merupakan peringatan atas tiga momen penting dalam kehidupan. Yakni kelahiran Pangeran Sidhartha Gautama, tercapainya penerangan sempurna oleh Pertapa Gautama, dan mangkatnya sang Buddha Gautama.
Tiga kejadian tersebut yakni, kelahiran, penerangan, kematian— terjadi pada hari yang sama ketika bulan purnama di bulan Waisak.

Ketua Panitia Peringatan Tri Suci Waisak Yayasan Perguruan Buddhist Manjusri, Pematangsiantar Irmalina Wirakusuma menyampaikan kegiatan tersebut adalah kegiatan tahunan yang selalu dirayakan di sekolah tersebut.
Tujuannya untuk mengingat kembali ajaran sang Buddha, menyontoh perilaku sang Buddha dan melaksanakan ajaran agama Buddha.
Bagi umat Buddha, hal tersebut berarti menaati peraturan moral, seperti menghindari pembunuhan makhluk hidup, mencuri, berbuat asusila, berbohong dan mabuk-mabukkan.

Selain kelima larangan tersebut, umat Buddha ketika hari Waisak biasanya mengembangkan cinta-kasih dengan cara membantu fakir-miskin atau mereka yang membutuhkan, melepas hewan (biasanya burung) sebagai simbol cinta-kasih dan penghargaan terhadap lingkungan, serta merenungkan segala perbuatan yang telah dilakukan apakah baik atau buruk sehingga diharapkan di masa mendatangkan tidak mengulangi perbuatan yang buruk yang dapat merugikan.
Pada perayaan kali ini kata Irmalina, digelar pentas seni, bazar dan pembagian takjil.
Kegiatan yang berlangsung penuh hikmad itu diawali dengan kebaktian yang dipimpin Suhu Cong Cen dan diikuti seluruh peserta. Setelah kebaktian acara pun dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebagai bentuk kecintaan terhadap negeri. Lagu Mars Manjusri pun dinyayikan seluruh siswa dan guru dengan dipipmpi Merry Chrisna Manik, guru SMP Budhist Manjusri Pematangsiantar.
Kegiatan ini pun dihadiri oleh, Ketua DPD Walubi Kota Pematangsiantar Susanto, Majelis Umat Buddha Mahayana Indonesia (Majubumi) Chandra SE dan Juan Chandra, Kantor Kementrian Agama yang diwakili Rujono SE Sag, Susteran FCJM Komunitas Greccio dan undangan lainnya.
Sejumlah siswa dari masing masing kelas dan tingkatan pun menampilkan kebolehan dan bakatnya dalam kegiatan Pentas Seni tersebut. Tak ketinggalan guru dan orang tua pun ikut ambil bagian dalam menyemarakkannya.
Bagi para tamu undangan dan peserta yang hadir, panitia pun telah menyiapkan Bazar yang menyediakan aneka makanan, minuman dan sejumlah penganan lainnya.
Ada Tarian, Vocal Group, Duet Song dan Solo Vocal yang cukup menghibur dan menampilkan bakat Siswa.
Suasana kian seru saat sejumlahorang tua siswa menunjukkan kebolehannya menari dengan menggunakan kostum SMA.

Keseruan belum berakhir, Lucky Draw yang diundi untuk siswa dan guru pun mengisi rangakaian kegiatan. Ada hadiah sepeda, kipas angin, dispenser dan lainnya yang disiapkan.
Dalam pentas seni itu, Yayasan Perguruan Buddhist Manjusri pun membuka pendaftaran bagi siswa TK dengan biaya pendaftaran digratiskan.
Usai kegiatan, Pengurus Yayasan Perguruan Buddhist Manjusri dan guru pun menggelar kegiatan sosial dengan membagikan Takjil kepada pengendara di Jalan Pane, Pematangsiantar.


Discussion about this post