Ada juga Bernadeta Astari (Belanda) serta Ken Lila Ashanty, violis kelahiran Jakarta yang kini bermukim di Swiss. Mereka akan berkolaborasi dengan pianis asal Jakarta, Yoshephine Madju. Tak ketinggalan, Viky Sianipar, Alsant Nababan, Louis Sitanggang, Tongam Sirait, Jajabi Band, Boraspati Group, dan Halak Hita Group.
“Kami ingin menghadirkan suguhan berkelas yang mampu menjadi booster pariwisata Danau Toba. Untuk itu konsepnya pun kita buat semaksimal mungkin sehingga dapat menghibur wisatawan,” ungkapnya.
Menariknya para musisi ini diwajibkan untuk membawakan lagu daerah Batak. Selain itu mereka pun diwajibkan untuk menggunakan alat musik Batak. Sehingga setiap musisi yang terlibat, butuh persiapan lama. Khususnya dalam mempelajari lagu dan alat musik Batak. Dan hal ini menjadi daya tarik dari SMI 2018.
“Dengan konsep event yang seperti itu, nilai Habatakon terangkat dan lebih diperkenalkan ke dunia yang lebih luas lewat jalur musik. Kita ingin menunjukkan, bahwa lagu Batak itu sangat indah dan fleksibel, bisa digubah ke segala genre musik. Tentu, nilai promosi daerah juga terkandung di dalamnya. Event ini memberi dampak positif ke banyak hal,” ungkapnya.




Discussion about this post