Ajang Pekan Olahraga Wartawan Sumatera Utara (Porwasu) 2026 yang memperebutkan Piala Bobby Nasution, berakhir ricuh dan menuai sorotan tajam. Turnamen yang digelar di Lapangan Mini Soccer, Jalan Willem Iskandar, Medan, Jumat (10/4), ini justru meninggalkan catatan serius terkait profesionalitas dan kredibilitas penyelenggaraan.
Kericuhan pecah saat pertandingan antara tim WIB melawan Newsroom. Sejak awal turnamen, suasana memang sudah diwarnai ketegangan. Sejumlah tim peserta berulang kali melayangkan protes terhadap tim Newsroom yang diduga menurunkan pemain “sisipan” yang tidak memenuhi kriteria sebagai wartawan.
Namun, berbagai protes tersebut dinilai tidak ditindaklanjuti secara tegas oleh panitia. Minimnya proses verifikasi dan lemahnya screening pemain disebut-sebut menjadi akar persoalan yang terus dibiarkan hingga akhirnya memicu konflik terbuka.
Puncak kericuhan terjadi saat laga WIB kontra Newsroom berlangsung. Situasi di lapangan memanas setelah muncul dugaan provokasi yang menyulut emosi pemain. Ketegangan yang sebelumnya terpendam akhirnya meledak.
Tidak hanya melibatkan kedua tim yang bertanding, emosi juga meluas ke tim lain yang merasa keberatan atas dugaan pelanggaran tersebut. Suasana pertandingan pun berubah menjadi ricuh dan tak terkendali.
Sejumlah peserta menilai bahwa kelalaian panitia dalam memastikan keabsahan pemain telah mencederai semangat sportivitas yang seharusnya dijunjung tinggi dalam ajang antarwartawan.
Sorotan semakin tajam setelah muncul dugaan adanya peserta non-wartawan yang lolos dan ikut bertanding. Sosok tersebut diketahui bernama Muhammad Aswadi alias Wadi, yang memperkuat tim PS Forwakum (Forum Wartawan Hukum).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Wadi bukan berprofesi sebagai wartawan, melainkan tenaga kontrak di Kantor Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai.
Keterangan ini diperkuat oleh Azmi Sitorus, seorang wartawan media online sekaligus warga Desa Pekan Tanjung Beringin.
“Setahu saya dia tidak pernah jadi wartawan. Dia bekerja di Kantor Camat Tanjung Beringin,” ujar Azmi, Kamis (9/4/2026).
Hal senada juga disampaikan oleh Camat Tanjung Beringin, Ahmadi Darma, yang membenarkan status pekerjaan yang bersangkutan.
“Benar, yang bersangkutan adalah tenaga kontrak di kantor kecamatan,” jelasnya saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Insiden ini memunculkan kritik keras terhadap kinerja panitia Porwasu 2026. Mereka dianggap lalai dalam menjalankan tugas utama, khususnya dalam melakukan verifikasi peserta.
Ketidaktegasan panitia dinilai tidak hanya memicu kericuhan, tetapi juga merusak integritas dan kredibilitas turnamen. Ajang yang seharusnya menjadi ruang silaturahmi dan memperkuat solidaritas antarinsan pers justru berubah menjadi konflik terbuka.
Hingga berita ini diturunkan, panitia Porwasu 2026 belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan lolosnya peserta non-wartawan maupun insiden kericuhan di lapangan.
Sejumlah tim peserta mendesak agar Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, turun tangan untuk mengevaluasi penyelenggaraan Porwasu 2026 secara menyeluruh.
Mereka meminta agar panitia diberikan sanksi tegas atas kelalaian yang terjadi, sekaligus memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa sebuah ajang olahraga, terlebih yang membawa nama profesi wartawan, harus menjunjung tinggi nilai integritas, kejujuran, dan fair play.
Tanpa pengawasan yang ketat dan ketegasan panitia, kompetisi berpotensi kehilangan makna dan justru menjadi ajang konflik yang merugikan semua pihak.
Kini, publik pun mempertanyakan: sejauh mana kredibilitas panitia dalam menjaga integritas kompetisi yang mereka selenggarakan sendiri?



