Naskah Opera Batak Perempuan di Pinggir Danau (PdPD) dipentaskan kembali di Desa Sigapiton, Kecamatan Ajibata – Tobasa pada Jumat, 16 November 2018 lalu. Kesempatan pentas di sana dalam rangka Peresmian Kerjasama Perekonomian Masyarakat yang dilaksanakan pihak Bank Indonesia Regional I Sumatera.
Ada 18 orang dari Tim Opera Batak Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) memainkan naskah karya yang sekaligus disutradarai Lena Simanjuntak – Mertes itu. Sejak 2013 naskah ini sudah dipentaskah di 20-an tempat atau kota di Indonesia dan Jerman. Hitungan pertunjukan naskah sampai ke Sigapiton adalah yang ke-27 kali. dengan jumlah penonton sampai 2018 sudah melebihi 10.000 orang.
Naskah ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol dan Perancis, selain dengan empat bahasa dan satu aksara dalam cetakan buku yang diterbitkan 2013 lalu. Naskah PdPD mengekspose Danau Toba dalam bingkai mitologi, geologi, dan ekologi dalam konteks perempuan dan air.
Setiap kesempatan pentas PdPD selalu ada penyesuaian, kompromi bahasa, dan siasat permainan yang kadang dilakukan karena salah satu pemainnya berhalangan hadir. Malahan dalam beberapa kali kesempatan diciutkan dengan cara monolog.
Bingkai dan pesan yang ingin disampaikan sesuai dengan misi naskah ini yang terkait dengan persoalan air bersih di masa depan. Dari antara pemain PdPD sejak 2013 sudah ada yang berganti, terutama pemeran Samosir dan Putri Ikan. Kadangkala pemeran Toba juga berganti oleh dua pemeran yang kadang tak dapat hadir. Sejak 2015 Para pemusik total tergantikan dan dilengkapi dengan penyanyi yang juga kadang berganti.
Para penari utama sejak 2013 masih bertahan dan ada kemungkinan ke depan harus berganti. Selain pemeran yang sudah disebutkan, tokoh lakon cerita PdPD lainnya adalah Narator dan Ibu Ikan. Namun satu kali pemeran Ibu Ikan pernah absen sewaktu pertunjukan di Janggadolok, Tobasa.
Lima tokoh lakon cerita kadang berperan ganda untuk menjadi penari dan pemusik untuk memaksimalkan kemampuan tim dalam setiap kesempatan pentas. Kesempatan pentas di Sigapiton diwarnai oleh suasana lain dengan pemeran baru Samosir.
Namun belum semaksimal pemeran sebelumnya yang dalam hitungan jam terbang sudah melebihi 10 kali.
Tim Opera Batak PLOt dalam garapan PdPd, mulai 2015 sudah diperankan oleh para personil yang sudah memiliki pengalaman akademis di bidang sastra, tari, musik, dan bidang-bidang lainnya. Jadi sudah berbeda dengan 2013 yang sebagian masih diperankan beberapa personil dari grup Opera Batak terdahulu yang bergabung ke PLOt. Lima tahun mementaskan PdPD sudah menghasilkan banyak catatan yang dapat diakses untuk kepentingan skripsi dan tesis.
Menjelang akhir 2018 ini, PdPD tidak berhenti untuk pentas kembali setelah dari Sigapiton. Pentas setelah dari Sigapiton akan dilakukan ke Batuaji, Batam. Pentas ke Batam sudah dibicarakan sejak bulan Juli 2018 lalu dan PdPD adalah produksi ketiga PLOt ke Batam setelah 2009 (Opera Danau Toba) dan 2011 (Sijonaha). Pentas ketiga di Batam akan berlangsung di Gedung Gereja HKBP Mahanaim, Batuaji.
Berikutnya direncanakan pada Mei 2019. Selain pentas di HKBP Mahanaim, workshop tentang Opera Batak akan dilaksanakan di Sekolah Tunas Harapan Jeung Seung, sebuah sekolah misi Korea Selatan di Batam. Dalam rangka kedua pentas PdPD menjelang akhir tahun ini, Lena Simanjuntak – Mertes sudah datang dari Jerman sejak 5 November 2018 lalu. Bahkan bersama Tim PLOt mengikuti survey ke Batam. Tim PLOt menuju Batam juga berjumlah 18 orang dan akan berada di Batam dari 26 – 29 November 2018.
(rel/vay)




Discussion about this post