BPODT mulai mendorong pengembangan lokasi-lokasi wisata bernuansa atraksi di kawasan Danau Toba, Sumatra Utara. Dorongan ini dimulai dari pembangunan fisik dan pembuatan konsep manajemen pengelolaan Parapat Monkey Forest di Desa Sibaganding, Kecamatan Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun.
Arie Prasetyo, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) mengatakan, pihaknya akan memunculkan dua atraksi baru di kawasan Danau Toba, mulai 2019. Dua wisata atraksi akan dimunculkan setiap tahun, dapat berupa lokasi baru atau lokasi lama yang direhabilitasi lagi (rebranding).
“Monkey Forest masuk tahun ini. Kami sudah punya masterplannya,” ungkap dia, Minggu (10/2).
Ada dua pekerjaan besar dalam upaya BPODT mendorong pengembangan lokasi wisata ini, yakni pembangunan fisik dan sistem manajemen pengelolaan. Keduanya perlu dilakukan secara beriringan sehingga begitu pembangunan fisik selesai, lokasi tersebut sudah memiliki sistem manajemen pengelolaan dan dapat langsung menerima kunjungan wisatawan.
Terkait dengan pembangunan fisik, BPODT sepertinya tidak terlalu menemui kendala. Meski Arie belum dapat merinci jumlah alokasi dana yang tersedia, tetapi dia memastikan bahwa kebutuhan biaya untuk pembangunan fisiknya sudah dianggarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)
Perhatian lebih besar lebih dibutuhkan dalam pembuatan sistem manajemen pengelolaan yang dapat menjamin keberlangsungan lokasi wisata tersebut. Dalam hal ini, selain KLHK, BPODT serta pihak keluarga yang mendiami lokasi itu, Arie meyakini cara terbaik adalah dengan ikut melibatkan Pemprov Sumut dan Pemkab Simalungun.
“Tinggal bagaimana mencari formulasi yang tepat untuk membatasi tugas dan fungsi masing-masing pihak,” ujarnya.
Mengapa mendorong wisata atraktif? Ia paparkan, meskipun wilayah Danau Toba, khususnya daerah Parapat, selama ini sudah menjadi obyek wisata, tetapi masih minim lokasi-lokasi atraksi. Dan Parapat Monkey Forest menyimpan potensi itu. Bila dikemas dengan baik, bisa menjadi lokasi wisata atraktif tanpa membutuhkan biaya pengembangan yang besar.
Parapat Monkey Forest dapat meniru Mandala Suci Wenara Wana atau Monkey Forest Ubud. Sebuah tempat cagar alam dan kompleks candi di desa Padangtegal Ubud, Bali, yang mempunyai kurang lebih 749 ekor monyet ekor panjang.
Arie menilai Monkey Forest Ubud sudah memiliki sistem manajemen yang bagus. Tempat ini dikelola masyarakat dan mendatangkan pendapatan yang tidak kecil dari tiket masuk, penjualan suvenir dan sumber kreatif lain. Dari pendapatan tersebut mereka kemudian bisa membayar gaji petugas, biaya pemeliharaan dan pengeluaran lain, bahkan melakukan pengembangan fasilitas.
Parapat Monkey Forest sebenarnya didiami jumlah monyet jauh lebih banyak dari di Ubud. KLHK mencatat tempat itu menjadi kawasan bernaung 13 kelompok Kera, Beruk dan Siamang. Satu kelompok terdiri dari sekitar 100 ekor dan di dalam setiap kelompok terdapat 5 ekor babon (induk) atau sebagai pemimpin kelompok.




Discussion about this post