Oleh: Daniel Sianturi, Mahasiswa Jurusan Manajemen Rekayasa, Institut Teknologi Del
Saat ini masalah terpenting yang dihadapi dalam pembangunan ekonomi yaitu bagaimana memenuhi kebutuhan sekarang dengan menjaga persediaan di masa depan dan upaya untuk mempertahankan kelestarian lingkungan.
Pembangunan ekonomi yang berbasis sumber daya alam yang tidak memperhatikan aspek kelestarian lingkungan pada akhirnya akan berdampak negatif pada lingkungan itu sendiri, karena pada dasarnya sumber daya alam dan lingkungan memiliki kapasitas daya dukung yang terbatas (Jaya, 2004).
Dengan kata lain, pembangunan ekonomi yang tidak memperhatikan kapasitas sumber daya alam dan lingkungan akan menyebabkan permasalahan pembangunan kemudian hari. Oleh sebab itu, sangat dibutuhkan konsep pembangunan berkelanjutan untuk menjaga persediaan sumber daya alam di masa depan.
Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan untuk generasi masa depan (WCED, 1987). Pembangunan berkelanjutan tentunya sangat berhubungan dengan konsep 3P (profit, people, planet).
Berikut merupakan penjelasan tentang konsep 3P menurut Wibisono (2007), yaitu
(1) Profit (keuntungan), unsur terpenting yang menjadi tujuan utama setiap kegiatan usaha yang dapat digunakan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan. Aktivitas yang dapat ditempuh untuk mendongkrak profit antara lain dengan meningkatkan produktivitas dan melakukan efisiensi biaya;
(2) People (masyarakat), stakeholder penting bagi perusahaan, karena dukungan masyarakat sekitar sangat diperlukan bagi keberadaan, kelangsungan hidup, dan perkembangan perusahaan. Perusahaan perlu berkomitmen untuk berupaya memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat;
(3) Planet (lingkungan), sesuatu yang terkait dengan seluruh kehidupan kita yang memiliki hubungan sebab-akibat, dimana jika kita merawat lingkungan maka lingkungan pun akan memberikan manfaat bagi kita. Dengan melestarikan lingkungan, perusahaan akan memperoleh keuntungan yang lebih, terutama dari sisi kesehatan, kenyamanan, dan ketersediaan sumber daya alam yang lebih.
Konsep pembangunan berkelanjutan sangat cocok diterapkan pada kawasan Danau Toba. Saat ini kondisi dari kawasan Danau Toba sangat memprihatinkan. Menurut Moedjodo et al. (2006) Danau Toba kini sudah memiliki banyak perubahan antara lain, pengurangan kualitas air danau, pencemaran air yang mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi daerah, dan yang paling penting menimbulkan ancaman bagi makhluk hidup di kawasan Danau Toba.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembangunan keberlanjutan Danau Toba saat ini yang berhubungan dengan konsep 3P (profit, people, planet), yaitu dari segi profit, pendapatan per kapita masyarakat, cerita rakyat, banyaknya jumlah wisatawan, aksesibilitas, dan popularitas Danau Toba.
Faktor-faktor tersebut saling berhubungan satu sama lain, ketika popularitas Danau Toba meningkat dan akses untuk menuju ke Danau Toba sangat mudah, maka wisatawan akan banyak berkunjung ke Danau Toba dan akan menambah keuntungan atau meningkatkan pendapatan masyarakat.
Cerita rakyat juga merupakan faktor penentu karena mampu menarik minat dari para wisatawan untuk datang berkunjung ke Danau Toba. Contohnya yaitu sejarah terbentuknya Danau Toba, mitos tentang batu gantung, mitos tentang ikan mas, dan cerita rakyat lainnya; dari segi people, interaksi antar masyarakat, sosial dan budaya, sumber daya manusia, dan kreativitas masyarakat; dari segi planet, keindahan alam, kebersihan Danau Toba dari sampah, dan suasana lingkungan yang nyaman dan aman. Hal tersebut merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi konsep 3P terhadap pembangunan keberlanjutan Danau Toba.
Pembangunan keberlanjutan untuk Danau Toba juga tidak semua tercapai dengan baik. Banyak kegiatan-kegiatan dari masyarakat di sekitar kawasan Danau Toba yang membuat kondisi dari danau tersebut semakin buruk.
Beberapa kegiatan tersebut antara lain, membuang limbah rumah tangga ke danau yang menyebabkan pencemaran air, banyaknya budidaya ikan dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) sehingga mengalami tingkat eksploitasi yang berlebihan dan mengakibatkan berkurangnya populasi ikan di danau.
Penebangan pohon yang dilakukan secara berlebihan untuk kebutuhan pertukangan dan industri pulp sehingga mengakibatkan hutan gundul karena tidak ditanam pohon kembali dan rawan longsor, kegiatan pembukaan lahan pertanian atau perkebunan masyarakat yang berawal dari api kecil yang mengakibatkan kebakaran lahan karena tidak terkendalinya api tersebut dan terbatasnya upaya pemadaman. Kegiatan-kegiatan tersebut harus di atasi oleh semua pemangku kepentingan di kawasan Danau Toba.
Beberapa program yang menurut saya mampu untuk mengatasi hal tersebut, yaitu adanya pengawasan dari pemerintah terhadap setiap kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan Danau Toba seperti memberikan sanksi kepada masyarakat yang membuang limbah rumah tangga ke danau dan penertiban penggunaan KJA di sekitar danau, menjalankan program rehabilitasi hutan dan lahan dengan tujuan menanam pohon pada setiap bagian kawasan hutan dan lahan yang kosong atau gundul, melakukan penanaman jenis tanaman penutup tanah dari jenis kacang-kacangan atau jenis tanaman yang cepat tumbuh yang bisa menghambat penyebaran api seperti Makadamia dan Kaliandra di daerah rawan kebakaran (Aswandi dan Kholibrina, 2017).
Tentunya program-program tersebut juga tidak akan berguna tanpa adanya kesadaran dari setiap orang yang tinggal di kawasan Danau Toba. Kendala dari rusaknya lingkungan Danau Toba juga disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat di sekitar danau untuk menjaga dan merawat lingkungan. Masyarakat masih belum mengerti bahwa pentingnya sumber daya alam di masa depan untuk keberlangsungan hidupnya. Oleh sebab itu, dimulai dari diri sendiri untuk peduli terhadap lingkungan di sekitar Danau Toba dengan melakukan hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya.
Daftar Pustaka
Aswandi, dan Kholibrina, C. R. (2017). Pemulihan Ekosistem Danau Toba. Medan: PT. Bina Media Perintis.
Jaya, A. (2004). Konsep Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development). Tugas Individu Pengantar Falsafah Sains, 2-10.
Moedjodo, H., Simanjuntak, P., Hehanussa, P., & Lufiandi. (2006). Lake Toba: Experience and Lesson Learned Brief. 1-17.
WCED. (1987). Report of the World Commission on Environment and Development: Our Common Future. Oslo.
Wibisono, Y. (2007). Membedah Konsep dan Aplikasi CSR. Gresik: Fascho Publishing.


Discussion about this post