Warga Jalan Kopi Raya 3, Perumnas Simalingkar, Kelurahan Simalingkar A, Kecamatan Medan Johor, dibuat geram oleh kebijakan penjatahan air yang dilakukan PDAM Tirtanadi Cabang Padang Bulan. Air disebut hanya mengalir pada jam-jam tertentu, sementara di waktu krusial justru mati total.
Keluhan ini disampaikan langsung oleh salah seorang warga, Ronny Suherza. Ia mempertanyakan alasan penjatahan yang dinilai tidak adil karena hanya terjadi di wilayah mereka, sementara kawasan lain tetap menikmati air lancar tanpa gangguan.
“Nah! Itu dia bang, dijatahin airnya di sini. Siang mati, malam nanti dimatikan juga. Itu kenapa ya? Soalnya tempat-tempat lain enggak gitu pula, cuma di sini saja dijatahin gitu,” ujar Roni dengan nada kesal, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, kondisi ini sangat menyulitkan aktivitas warga, terutama pada waktu-waktu penting seperti sahur. Ia mencontohkan pengalaman yang baru saja terjadi.
“Kayak tadi malam lagi, bangun sahur biasa jam 3 sudah hidup. Ini kami perlu air untuk masak, jam 3.40 baru hidup. Mau masak apa kalau airnya belum ada?” keluhnya.
Warga meminta PDAM Tirtanadi menghentikan penjatahan dan mengembalikan distribusi air ke kondisi normal. Mereka menilai air bersih adalah kebutuhan dasar yang tidak seharusnya diperlakukan seperti komoditas yang bisa dimatikan sesuka jadwal.
Sementara itu, Kepala Cabang PDAM Tirtanadi Padang Bulan, Marta Tobing, saat dikonfirmasi memberikan penjelasan bahwa suplai air 24 jam penuh memang tidak sepenuhnya berjalan, bahkan di rumahnya sendiri.
“Mohon maaf ya pak… kalau 24 jam full di rumah kami juga tidak 24 jam pak. Pompa kita memang ada jadwal off atau istirahat pak. Biasanya di jam 12.00 sampai jam 16.00 (4 sore),” jelas Marta.
Ia menegaskan bahwa pompa tidak bisa dipaksakan beroperasi tanpa henti.
“Pompa memang harus istirahat, enggak bisa berjalan selama 24 jam,” tegasnya.
Namun, ketika disinggung soal wilayah lain seperti Helvetia yang airnya tetap lancar, Marta menyebut perbedaan sumber air sebagai faktor utama.
Menurutnya, sumber air untuk wilayah Helvetia berbeda dengan Simalingkar.
“Sumber air PDAM di Helvetia itu berbeda dengan Simalingkar. Kalau Simalingkar sumber airnya langsung dari Sibolangit,” katanya.
Terkait solusi konkret, pihak PDAM Cabang Padang Bulan menyatakan penjatahan tersebut diharapkan tidak berlangsung lama. Namun hingga kini belum ada kepastian kapan distribusi air bisa kembali normal 24 jam.
PDAM mengaku masih mengupayakan agar suplai air bisa lebih lancar, tetapi belum bisa memastikan tenggat waktunya.
Kondisi ini membuat warga semakin resah. Mereka menilai alasan teknis seperti “pompa istirahat” tidak seharusnya menjadi beban masyarakat, apalagi jika hanya satu wilayah yang terdampak.
Air bersih adalah kebutuhan dasar. Ketika distribusinya tersendat tanpa kepastian, yang terdampak bukan hanya kenyamanan, tetapi juga kesehatan dan aktivitas harian warga. Warga Simalingkar kini menunggu bukti nyata, bukan sekadar penjelasan berulang.

