Pendidikan dan Latihan (Diklat) Laskar Partai Gerindra Sumatera Utara di Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, tidak sekadar menjadi ajang pembekalan organisasi. Kegiatan yang berlangsung 2–4 Oktober 2026 itu diarahkan untuk memperkuat kapasitas kader agar mampu menerjemahkan pengetahuan dan kedisiplinan menjadi kerja nyata di tengah masyarakat.
Sekitar 500 peserta dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara mengikuti kegiatan tersebut. Selain Laskar Gerindra, sejumlah anggota DPRD dari berbagai daerah juga turut ambil bagian dalam rangkaian pembekalan.
Materi yang diberikan mencakup berbagai aspek, mulai dari kedisiplinan, wawasan kebangsaan, kepemimpinan, ideologi organisasi hingga kemampuan berkomunikasi di tengah pesatnya perkembangan ruang digital.
Ketua Panitia Diklat, Ihwan Ritonga, sebelumnya melaporkan bahwa kegiatan tersebut diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri dari Laskar Gerindra dan anggota DPRD dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara.
Dalam pembukaan kegiatan, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menekankan pentingnya memaknai pendidikan dan pelatihan kader bukan sebagai kegiatan seremonial semata. Diklat harus menjadi ruang untuk membentuk wawasan, kedisiplinan, integritas serta semangat pengabdian.
Tantangan di ruang digital juga menjadi salah satu perhatian dalam pembekalan. Para peserta diingatkan agar tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi serta meningkatkan kewaspadaan terhadap hoaks, misinformasi dan disinformasi.
Bonauli: Jangan Berhenti di Ruang Diklat
Pesan mengenai pentingnya implementasi hasil diklat disampaikan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Simalungun sekaligus Ketua Karang Taruna Provinsi Sumatera Utara, Bonauli Rajagukguk, S.H.
Menurut Bonauli, proses kaderisasi akan kehilangan makna apabila seluruh pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh hanya berhenti di ruang pelatihan.
“Diklat ini jangan berhenti sebagai kegiatan seremonial. Yang paling penting adalah bagaimana pengetahuan, kedisiplinan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan dapat diimplementasikan ketika kembali ke tengah masyarakat,” kata Bonauli.
Ia menegaskan, kader memiliki tanggung jawab untuk menjaga komunikasi, kedisiplinan serta memahami berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di daerah masing-masing.
“Kader harus hadir, mendengar dan memahami persoalan masyarakat. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah proses kaderisasi adalah kerja nyata setelah kembali ke daerah,” ujarnya.
Bonauli menilai, setelah mengikuti diklat, para kader akan kembali berhadapan langsung dengan dinamika masyarakat. Karena itu, pembekalan yang diperoleh selama tiga hari di Sibolangit diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi bekal dalam menjalankan peran sosial dan organisasi.
“Kita ingin kader yang bukan hanya memahami organisasi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat, mampu bekerja sama dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan,” katanya.
Diklat Laskar Gerindra Sumatera Utara di Sibolangit menjadi bagian dari agenda pembekalan dan konsolidasi kader di tingkat provinsi. Kehadiran peserta dari berbagai kabupaten/kota sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi antarkader.
Pada akhirnya, pesan yang mengemuka dari kegiatan tersebut sederhana: kaderisasi bukan sekadar mencetak kader yang memahami organisasi, tetapi membentuk sumber daya manusia yang mampu membawa nilai-nilai kedisiplinan, kepemimpinan dan tanggung jawab ke tengah masyarakat melalui kerja nyata.

