Kerukunan antarumat beragama kembali ditegaskan sebagai salah satu fondasi penting dalam pembangunan Kota Pematangsiantar. Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga toleransi, memperkuat komunikasi, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memecah persaudaraan.
Pesan tersebut disampaikan Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH MKn melalui Staf Ahli Bidang Pemerintahan Muhammad Hamdani Lubis SH saat menghadiri sekaligus membuka kegiatan Silaturahmi dan Dialog Kerukunan yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Pematangsiantar di Convention Hall Siantar Hotel, Kamis (13/8/2026).
Mengusung tema “Kerukunan sebagai Fondasi Bangsa untuk Membangun Kota Pematangsiantar yang Cerdas, Sehat, Kreatif, dan Selaras”, kegiatan tersebut mempertemukan tokoh-tokoh agama dan berbagai elemen masyarakat untuk memperkuat komitmen menjaga keharmonisan di Kota Pematangsiantar.
Dalam sambutannya, Wesly melalui Hamdani menyampaikan apresiasi kepada FKUB Kota Pematangsiantar yang dinilai konsisten menjaga dan memperkuat kerukunan antarumat beragama.
Menurutnya, kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus terus dirawat melalui komunikasi, silaturahmi, sikap saling menghormati, dan saling memahami.
“Kerukunan tidak cukup hanya kita bicarakan, tetapi harus kita rawat melalui komunikasi, silaturahmi, saling menghormati, dan saling memahami,” ujarnya.
Wesly menilai pembangunan kota bukan semata-mata mengenai infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, maupun pelayanan publik. Lebih dari itu, pembangunan harus mampu menciptakan masyarakat yang hidup aman, damai, dan saling menghargai.
Pematangsiantar, lanjutnya, sejak dahulu dikenal sebagai kota dengan keberagaman suku, agama, dan budaya. Keberagaman tersebut harus ditempatkan sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan.
“Perbedaan keyakinan jangan menjadi alasan untuk menjauh, tetapi justru menjadi kesempatan untuk saling mengenal, menghormati, dan memperkuat persaudaraan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa predikat sebagai salah satu kota dengan tingkat toleransi yang baik bukanlah tujuan akhir. Sebaliknya, hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama yang harus dipertahankan dan ditingkatkan.
Untuk itu, Pemko Pematangsiantar membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari pemuka agama, FKUB, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, dunia pendidikan hingga masyarakat luas.
Wesly berharap FKUB terus menjadi ruang bersama untuk membangun dialog dan komunikasi sekaligus menjadi wadah penyelesaian berbagai persoalan secara bijaksana sebelum berkembang menjadi konflik.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama informasi yang beredar melalui media sosial.
“Jangan sampai perbedaan pilihan, perbedaan pandangan, maupun perbedaan keyakinan membuat persaudaraan kita menjadi renggang,” pesannya.
Wesly mengajak seluruh masyarakat menjadikan kerukunan sebagai kekuatan untuk mewujudkan Pematangsiantar yang Cerdas, Sehat, Kreatif, dan Selaras.
Ia berharap dialog tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan gagasan, komitmen, serta langkah nyata dalam menjaga kerukunan di tengah masyarakat.
“Kerukunan kita jaga, persaudaraan kita perkuat, Pematangsiantar semakin hebat,” tegasnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan dialog yang melibatkan para tokoh agama.
Turut hadir Kapolres Pematangsiantar yang diwakili AKP Maxi Manurung, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pematangsiantar yang diwakili Amrial Saragih, Ketua FKUB Kota Pematangsiantar Drs HM Ali Lubis beserta jajaran, para tokoh agama, tokoh pemuda, dan undangan lainnya.

