Sebagai kelompok yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, massa aksi yang sebelumnya telah menggelar unjuk rasa beberapa kali di Kota Pematangsiantar ini memilih untuk menunda aksi pada Senin (7/5).
Massa aksi dari etnis Simalungun sebelumnya telah merencanakan dan menjadwalkan aksi pada hari ini, Senin (7/5/2018)
Salah satu tokoh pemuda dari etnis Simalungun yang juga terlibat langsung dalam sejumlah aksi unjukrasa yang menuntut pemakzulan Hefriansyah sebagai walikota menyampaikan alasannya.
Jan Wiserdo Saragih yang merupakan Ketua Komite Nasional Pemuda Simalungun Indonesia (KNPSI) kepada Newscorner.id menyampaikan penundaan aksi tersebut tak dibatasi waktu.
“Seperti yang kami umumkan untuk menghormati saudara kami yang sedang melaksanakan MTQ dan saudara kami dari IKEIS , GEMA- ISI juga turut dalam kegiatan tersebut maka kegiatan ditunda sampai batas waktu yang nanti ditentukan,” Sampainya.
Ditambahkanya, atas ketidak tahuan jadwal yang berbenturan tersebut, mereka meminta maaf.
“Sebelumnya kami mohon maaf karena kami sama sekali tidak mengetahui jika tanggal 7,8,9 itu pelaksanaan MTQ . Jika kami tahu tak mungkin kami jadwalkan kegiatan Doa Keprihatinan Simalungun itu di jadwal yang sama,” Terangnya.
Toleransi Etnis Simalungun menurutnya sudah tak perlu diragukan lagi. Dibuktikan dengan sejumlah catatan sejarah di Pematangsiantar.
“Sejarah sudah membuktikan bahwa Simalungun itu luar biasa toleran , hal ini bisa dilihat Raja Sangnaualuh menghargai semua suku dan agama yang ada. Sampai saat ini buktinya terlihat seperti ada Kampung Melayu , Kampung Banjar , Untuk Suku Toba Di Buat Kampung Kristen , Kampung Bantan , Kampung Keling , Kampung Karo Dan Tidak Ada Kampung Simalungun karena di Tanah Simalungun,” beber Jan Wiserdo.
Penundaan aksi kali ini menurutnya sebagai salah satu bukti bahwa mereka sangat menjunjung tinggi toleransi.
“Dan untuk toleransi itu jugalah kami membuktikan bahwa kami sangat memiliki toleransi yang tinggi,” tegasnya. (Vay)




Discussion about this post