Sebuah inisiatif luar biasa telah dilakukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) untuk semarakkan permainan tradisional 3M Suku Batak Toba. di Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba, Minggu, (03/09/2023).
Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan stimulus psikososial pada anak-anak di Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara, sebagai upaya pencegahan stunting yang semakin mengkhawatirkan di daerah tersebut.
Kegiatan ini merupakan sebagai bentuk implementasi program Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemnristekdikti tahun 2023. Dengan beranggotakan M. Khoirul Fahmi selaku ketua tim, Dhea Maya Afifa dan Mahmud Kholil Shofa Siagian sebagai anggota dan bapak Dr. Edy Suprayetno, M.Pd selaku dosen pendamping.
Acara ini merupakan kolaborasi antara mahasiswa UMSU dan masyarakat lokal Laguboti. Selama lima hari berturut-turut, 3 permainan tradisional Suku Batak Toba, seperti ‘Marsitekka’, ‘Marsibahe’, dan ‘Marampera’ menjadi pusat perhatian. Anak-anak dari berbagai usia berpartisipasi dalam permainan ini, menghidupkan kembali warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai luhur. Inisiatif ini juga memberikan perhatian khusus pada peningkatan stimulus psikososial pada anak-anak. Psikososial melibatkan aspek-aspek kognitif, emosional, dan sosial dalam perkembangan anak. Melalui permainan tradisional, anak-anak ini memperoleh pengalaman belajar yang memperkuat aspek-aspek psikososial mereka, seperti kreativitas, interaksi sosial, dan pemecahan masalah.
“Melalui permainan tradisional 3M (Marsitekka, Marsibahe Marampera) Suku Batak Toba, kami mencoba merekonstruksi makna budaya yang ada pada permainan tersebut untuk kemudian menjadi refleksi bagi anak-anak di lokasi riset kami, dan dalam skala yang lebih besar bagi seluruh dunia, bahwa peningkatan stimulus psikososial melalui permainan tradisional seperti 3M tersebut dapat menjadi langkah preventif pencegahan stunting”, ujar Fahmi.
Selanjutnya ia menjelaskan bahwa, permainan tradisional 3M Suku Batak Toba, meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik anak, sehingga hal-hal tersebut akan menjadi langkah-langkah peningkatan stimulus psikososial anak, karena stunting tidak hanya berbicara mengenai berat dan tinggi anak, namun kita juga bisa mengukur dari aspek psikososial, apakah anak itu aktif, ceria, atau kah murung dan suka mengasingkan diri. Juga, melalui upaya penerapan permainan tradisional 3M ini, dan disertai dengan slogan act Local to Global , kita kenalkan budaya bangsa ke seluruh dunia.
Saya selaku kepala sekolah SDN No. 173551 Kecamatan Laguboti sangat mengapresiasi rekonstruksi nilai-nilai budaya suku Batak Toba melalui permainan tradisional 3M ini. Mengingat berkembangnya zaman dan teknologi, tentu hal ini akan mengikis nilai-nilai budaya yang ada kepada generasi bangsa di masa kini dan masa depan. Maka saya sangat mendukung dan mengapresiasi upaya tim PKM RSH dari UMSU dalam upaya peningkatan stimulus psikososial cegah stunting melalui permainan tradisional suku kami. Act Local to Global, pencegahan stunting dapat kita entaskan dengan upaya meningkatkan stimulus psikososial anak melalui permainan tradisional 3M Suku Batak Toba.

