
Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, DR. Nadjamuddin Ramly, M.Si. menyampaikan, “Gelar Budaya Sulawesi Indonesiana Vula Dongga yang pertama ini diadakan di Parigi Moutong ini, selanjutnya bisa dilakukan oleh Kabupaten lain di Sulawesi Tengah. Menumbuhkembangkan kebudayaan adalah bagian dari solusi pembangunan karakter, ini adalah landasan Indonesiana yang kedua di Vula Dongga yaitu supermoon, tema dari tahun ini adalah solidaritas, perdamaian dan kebhinekaan tunggal ika, bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan.
Gelar Budaya Vula Dongga pertama ini secara istimewa dibuka oleh penampilan orkestra OCAS dan disambut meriah oleh para masyarakat yang hadir di Taman Masigi. Para anggota OCAS kemudian dijamu makan malam dan tari-tarian serta group band penyanyi lokal Parigi di Gedung Kantor Bupati Parigi Moutong.
Dalam kesempatan yang berbeda, orkestra OCAS melawat SD Inpres 1 Bantaya Parigi Moutong. Sekitar 300 anak menyambut dengan tari-tarian tradisional Mokombu (tarian penyambutan), drumband, parade gerakan pramuka, fashion show anak, musik rebana, tarian Pomonte (tarian menanam dan panen padi). Pada tarian Pamonte ini, beberapa anggota OCAS ikut menarikan bersama anak-anak.

Sebanyak 35 anak-anak dari SLB (Sekolah Luar Biasa Negeri) Parigi juga turut meramaikan kunjungan OCAS. Mereka menujukkan kebolehannya menari tarian Dindin Badindin dan Senam Penguin. Guru kecantikan dan ketrampilan Sekolah Luar Biasa Parigi, Sherly Anggraini mengatakan bahwa anak-anak sudah berlatih selama 3 bulan untuk menyambut kedatangan Vinculos.
Dalam permainan konser didaktik Vinculos di SD selalu mengajak untuk berpartisipasi memimpin konser, bermain alat musik, bernyanyi bersama. Kali ini anggota OCAS; Javier dan Raul mengajarkan mereka bermain ketukan perkusi dengan menepuk anggota tubuh mereka. Lagu Radetzky March menjadi pilihan lagu yang diiringi tepukan anak-anak.
Pengalaman bertukar budaya seperti ini sangat menarik, sebelumnya mereka belajar tarian tradisional Pomante dari anak-anak, kemudian mereka mengajari anak-anak tarian tradisional dari Asturias, El Xarreru yang diikuti secara berpasang-pasangan.(Ajeng/Vox Populi)




Discussion about this post