Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematangsiantar kembali menggelar acara Temu Responden Survei dan Liaison pada hari Minggu, 10 Maret 2019. Bertempat di Ruang Serbaguna KPw BI Pematangsiantar, acara yang mengusung konsep malam ramah tamah tersebut dibuka oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Elly Tjan.
Kegiatan ini dihadiri sekitar 250 peserta yang merupakan responden berbagai survei yang dilaksanakan Bank Indonesia serta UMKM
di wilayah Pematangsiantar dan Simalungun.
Berbeda dengan Temu Responden tahun sebelumnya, kegiatan Temu Responden tahun ini mengangkat topik teknologi finansial yang tengah berkembang di masyarakat. Tema “Mengenal Peer to Peer (P2P) Lending; Keuntungan dan Risikonya” dibawakan oleh PT. Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran),
Akseleran merupakan merupakan satu dari 10 platform P2P terbaik di Indonesia berdasarkan publikasi dan penilaian KPMG dalam Fintech Edge 2018.
Membuka kegiatan Temu Responden tersebut, Elly Tjan menyampaikan bahwa kegiatan survei dan liaison memiliki fungsi strategis dalam pencapaian tujuan tunggal Bank Indonesia yaitu mencapai dan menjaga kestabilan nilai rupiah. Oleh karena itulah, KPw BI Pematangsiantar menyampaikan apresiasinya kepada para responden yang telah bekerjasama dengan Bank Indonesia.
Elly Tjan memaparkan bahwa Bank Indonesia membutuhkan informasi dini mengenai aktivitas perkembangan harga yang di antaranya dilakukan melalui Survei Pemantauan Harga (SPH) mingguan dan survei Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang dilakukan secara harian, khusus pada 10 komoditas pangan strategis.
Untuk memperluas akses informasi kepada masyarakat dan mengurangi informasi asimetris harga pangan, survei PIHPS juga telah diperluas ke Pedagang Besar yang dilaksanakan secara mingguan, serta ke Produsen yang dilakukan secara bulanan. Informasi harga pangan, khususnya pada 10 komoditas strategis tersebut, dapat diakses melalui aplikasi “Harga Pangan” yang dapat diunduh pada smart phone.
Tidak hanya itu, untuk mengetahui perkembangan ekonomi terkini di sektor riil, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar juga melakukan Survei Kondisi Dunia Usaha (SKDU) dan kegiatan Liaison (in depth interview) kepada pelaku usaha di sektor ekonomi utama. Kegiatan SKDU dilakukan secara triwulanan kepada pelaku usaha di seluruh sektor ekonomi, yang mencakup kondisi usaha pada triwulan berjalan dan perkiraan di triwulan yang akan datang.
Sementara kegiatan liaison merupakan kegiatan yang berbentuk wawancara langsung kepada berbagai pelaku usaha di sektor ekonomi utama di wilayah kerja KPw BI Pematangsiantar. Informasi yang diperoleh dari kedua kegiatan tersebut akan menjadi masukan dalam mendukung perumusan kebijakan Bank Indonesia
dan penyusunan kajian ekonomi dan keuangan daerah.
Dalam rangkaian acara yang sama, para peserta diperkenalkan dengan industri teknologi finansial, khususnya mengenai peer to peer (P2P) lending. Sesi yang dibawakan langsung oleh oleh Chief Credit Officer Akseleran, Christopher Joutua Gultom.
Perusahaan Teknologi Finansial (TekFin) merupakan perusahaan jasa keuangan yang produk dan layanannya berdasarkan inovasi teknologi terkini. Perusahaan yang berkecimpung pada industri TekFin dapat bergerak di bidang Pembayaran dan Transfer (Gopay, Paypal, Doku, dll), Pembiayaan (Aksleran, Investree, Modalku, dll), Manajemen Unit Pengembangan Ekonomi Keuangan dan Asuransi (Cermati, Raja Premi, Pasarpolis, dll), maupun Bursa, Valas, Reksadana (Bareksa, Ipotfund, Stockbit, dll). Transaksi pada berbagai platform digital tersebut berkembang pesat dalam dua tahun terakhir. Sebagai contoh, penyaluran pinjaman melalui platform digital pada
tahun 2018 mencapai Rp22,67 triliun, jauh melesat dibanding periode Januari 2018 yang mana penyaluran pinjaman Tekfin baru mencapai Rp3 triliun.
Peer to peer (P2P) lending sendiri merupakan penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk mempertemukan Pemberi Pinjaman dengan Penerima Pinjaman dalam rangka melakukan perjanjian pinjam meminjam melalui sistem elektronik dengan menggunakan jaringan internet. Secara sederhana, P2P lending meripakan pendanaan gotong royong yang dilakukan secara online. Pinjaman yang diberikan dalam P2P lending dapat berupa pinjaman produktif maupun konsumtif. P2P lending untuk pinjaman produktif fokus pada pendanaan bagi usaha yang ingin berkembang, di mana modal dari investor digunakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan dengan bisnis
Peminjam. Beberapa platform yang bergerak pada pinjaman produktif, di antaranya Koinworks, Akseleran, Investree dan Modalku. Sementara itu, pinjaman konsumtif fokus pada pinjaman untuk kebutuhan pribadi, seperti Akulaku, Kredivo, Uangteman, dan sebagainya.
Dalam paparannya, CCO Akseleran menyampaikan bahwa P2P lending menjadi opsi pembiayaan bagi UMKM yang belum dapat terhubung ke lembaga keuangan konvensional seperti perbankan. Bagi UMKM, beberapa keuntungan dalam melakukan pinjaman melalui platform P2P lending, di antaranya proses yang relatif cepat dan mudah, aman dan fleksibilitasnya yang tinggi.
Berbeda dengan lembaga keuangan konvensional, persyaratan dokumen disesuaikan dengan karakteristik
bisnis, pengajuan pinjaman dapat dilakukan dengan atau tanpa agunan serta bentuk agunan yang
lebih fleksibel, seperti invoice, kontrak, inventaris, peralatan maupun tanah dan bangunan.
Di samping itu, tenor pembayaran juga dapat disesuaikan dengan siklus bisnis UMKM. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah mengatur dan mengawasi P2P lending di Indonesia sehingga lebih aman bagi investor.
Sementara itu, dari sisi pemilik dana, P2P lending menjadi opsi investasi dengan imbal hasil yang menguntungkan, mudah dan dapat dimulai dengan nilai investasi yang minim. P2P lending tentu tak lepas dari risiko. Dari sisi pemilik dana, terdapat risiko pinjaman yaitu terlampat bayar dari peminjam. Di samping itu, banyak platform P2P lending yang belum terdaftar secara resmi di OJK. Sebagai mitigasi, para pemilik dana disarankan untuk menempatkan dana pada platform yang telah terdaftar dan diawasi OJK serta melakukan diversifikasi penempatan dana pada beberapa penggalangan dana.
Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung antusias di antara responden survei dan UMKM yang hadir.
Kegiatan Temu Responden ditutup dengan pemberian apresiasi kepada para responden survei Bank
Indonesia.
Ke depannya, selain menjadi ajang silahturahmi kepada Bapak/Ibu responden yang telah bersedia
memberikan informasi kepada KPw BI Pematangsiantar, kegiatan ini juga sekaligus sebagai wadah
untuk evalauasi untuk pencapaian kualitas informasi yang lebih baik serta media komunikasi
kebijakan Bank Indonesia kepada masyarakat.(Rel/Vay)


Discussion about this post