Wakil Bupati Toba Samosir, Hulman Sitorus, mengkritik banyaknya acara yang sering dilakukan atau dihadiri oleh instansi pemerintah tetapi tidak ditindaklanjuti.
Hulman Sitorus menyampaikan kritik tersebut dalam pidatonya di Desa Jangga Dolok, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (5/9), pada acara pelatihan dan diseminasi produk hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Dia berpendapat bahwa banyak teknologi pertanian yang sudah ditemukan oleh LIPI dan perguruan tinggi, tetapi diseminasinya kepada publik kurang, sehingga masyarakat tidak mengetahuinya.
Oleh karena itu, dia menyambut baik acara diseminasi dan pelatihan pembuatan pupuk organik hayati, pakan ikan, dan jamur pangan oleh LIPI di Desa Jangga Dolok.
Akan tetapi, kami berharap ke depan ada tindak lanjutnya.
Sebab catatan yang kedua, di negeri kita ini banyak acara, banyak kegiatan yang tidak punya tindak lanjut.
“Itu jugalah yang membuat kita kemajuannya lambat dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain,” ujar Hulman Sitorus, yang didengarkan puluhan orang petani, Bupati Tobasa Darwin Siagian, dan juga Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Dr. Ir. Witjaksono.
Hulman Sitorus meminta LIPI turut membantu pengembangan tanaman khas Tanah Batak, seperti andaliman, rempah yang belum dikelola secara maksimal dan sistematis, karena terbatasnya teknologi dan sistem pemasarannya.
Meskipun demikian, dengan segala keterbatasan, dalam dua tahun terakhir andaliman sudah dikonservasi di Taman Eden, Kecamatan Lumbanjulu.
“Andaliman itu pedas tapi bukan cabai, getir tapi bukan lada,” katanya.
Selain andaliman, haminjon atau getah kemenyan juga perlu dikembangkan teknologinya oleh LIPI. Haminjon biasanya digunakan untuk pembuatan obat-obatan, kosmetik, dan minyak wangi. Harganya pun mahal.
“Harganya di sini Rp200.000 per kilogram. Tetapi kalau sudah diolah, harga jualnya di luar negeri bisa mencapai sekitar Rp30n juta. Akan luar biasa kesejahteraan masyarakat Toba ini kalau teknologi tersebut dapat diterapkan,” kata Wakil Bupati Tobasa Hulman Sitorus.
Kepada masyarakat Desa Jangga Dolok, Wakil Bupati berpesan supaya mereka ikut mengembangkan potensi penganan lokal, seperti hare dan tipatipa, yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia.
Demikian juga dengan budaya khas Batak, seperti tortor, gorga, dan ulos. Kebudayaan asli orang Batak itulah yang harus diperlihatkan kepada wisatawan.
“Turis ingin melihat tortor, bukan dansa,” katanya.
Dia juga mengingatkan kaum ibu untuk mengurangi penggunaan busana produk luar daerah atau luar negeri ketika mengikuti pesta-pesta adat Batak. (Rel/Jetro)




Discussion about this post