Isak tangis istri Janu Hardi tak henti -hentinya sepanjang adegan demi adegan direkonstruksi di Asrama Polisi (Aspol) Jalan Sangnaualuh, Jumat (28/7/2018).
Sebelum tewas, Janu Hardi diketahui sempat sembunyi di jurang. Hal ini terungkap dalam gelar perkara oleh Sat Reskrim Polres Simalungun dalam kasus pembunuhan Janu Hardi.
Tiga pelaku, Donal Sihotang, Harun Panjaitan dan Wais Aqurniawan Sidabalok alias Wiwis, juga turut dan memperagakan 21 adegan.
Peristiwa itu terjadi di Blok 104 Afdeling V PTPN IV Kebun Mayang, Nagori Parbutaran, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Selasa (29/5/2018) lalu.
Awalnya, pelaku Donal Sihotang mendapat telepon dari bounya Ida Royani dan mengaku melihat seseorang sedang mendorong kereta kearah jurang sawitan Afdeling V.
Selanjutnya Donal menuju rumah namborunya menggunakan septor. Namun diperjalanan Donal bertemu dengan saksi Dani Sinaga. Ia pun mengajak Dani ke rumah namoborunya tersebut.

Singkat cerita, keduanya bergerak menuju lokasi setelah lebih dulu mengajak pelaku Harun Panjaitan.
Setibanya di TKP, ketiganya bertemu dengan Ucok Sitorus dan Riski Damanik (keduanya DPO).
Disitu mereka melihat korban dengan jarak pantau sekitar 15 meter sementara septor berada dibelakangnya.
Beberapa kali dipanggil, korban tak memberikan jawaban malah berusaha melarikan diri.
Mereka berusaha melakukan pengejaran terhadap korban yang berlari dan bersembunyi kedalam jurang.
Dibekali pelepah sawit dan parang, Donal Sihotang, Harun Panjaitan, Riski Damanik dan Ucok Sitorus turun kedalam jurang. Sementara Dani Sinaga menunggu diatas.
Berhasil ditemukan, Donal Sihotang memukul korban sebanyak empat kali dan diikuti oleh pelaku lainnya. Sadar nyawanya terancam, korban berusaha melepaskan diri dan melompat kedalam sungai.
Meski begitu, Donal Sihotang tetap melakukan pengejaran. Sekitar 200 meter, korban berhenti tetapi sudah dalam kondisi berdarah.

Warga sudah ramai berkumpul. Tiba-tiba tersangka Riski Damanik menendang korban hingga terjatuh ke sungai.
Namun korban berhasil dinaikkan kedaratan. Disini korban kembali dianiaya. Belakangan korban akhirnya meninggal dunia.
Pantauan, rekontruksi tersebut turut dihadiri oleh istri korban, Kasat Reskrim AKP Poltak Siburian, Jaksa dan para saksi. Sepanjang rekontruksi, istri korban terus menangis.
Kepada wartawan, istri korban Ida mengakui bahwa mereka sempat bertengkar dengan suaminya tersebut.
Sehingga pada Selasa tengah hari, suaminya pergi dari rumah menggunakan septor. Namun saat melalui areal persawitan, dipertengahan jalan suaminya malah kehabisan besin.
“Kami sudah 20 tahun berumah tangga,” katanya sedih. (***)


Discussion about this post