Oleh : Saula Lestari Tampubolon
Mahasiswa Program Studi Manajemen Rekayasa, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Del
Semakin tingginya tuntutan pemenuhan terhadap kebutuhan masyarakat akan memicu timbulnya masalah dalam proses pembangunan, yang mana akan menyebabkan eksploitasi sumber daya alam secara terus-menerus.
Hal ini akan menyebabkan masalah lain yakni menurunnya kualitas lingkungan karena keterbatasan lingkungan dalam mempertahankan kelestariannya. Oleh karena kondisi diatas, diperlukan optimalisasi sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas dengan menerapkan pembangunan berkelanjutan (BPS, 2015) .
Definisi dasar pembangunan berkelanjutan dikemukakan oleh Brundlandt pada tahun 1987 dalam laporan “Our Common Future” yang diterbitkan oleh Komisi Lingkungan Hidup dan Pembangunan Dunia (World Commission on Environment and Development, WCED) sebagai pembangunan yang mampu memenuhi keperluan hidup manusia masa kini tanpa mengabaikan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mereka (Agustina, 2007).
WCED dalam United Nations Conference on Environment and Development (UNICED) mengatakan untuk membantu dalam mengambil keputusan yang berfokus pada pembangunan berkelanjutan diperlukan indikator atau variabel pembangunan berkelanjutan sebagai acuan dalam mengukur pencapaian pembangunan berkelanjutan tersebut.
Pada area Danau Toba yang menjadi indikator dalam konsep keberlanjutan 3P antara lain: planet (lingkungan) yaitu kualitas air danau toba, melaksanakan sanitasi, limbah rumah tangga, people (sosial) yaitu suasana masyarakat saling menghargai, keterlibatan masyrakat dalam menjaga danau toba, profit (ekonomi) yaitu pendapatan perkapita masyarakat, pengeluaran perkapita, dan masyarakat pengguna air bersih.
Dalam paper berjudul “Experience and Lesson Learned Brief” yang disampaikan oleh menjelaskan bahwa Danau Toba tidak terbentuk karena peristiwa tunggal melainkan kombinai beberapa peristiwa yang kompleks. Dalam sejarah geologis bumi, pembentukan Danau Toba merupakan hasil dari aktivitas mega-vulkanik selama dua setengah juta tahun terakhir.
Daerah di sekitar Danau Toba dicadangkan khusus untuk tujuan konservasi yang berfungsi sebagai penyerapan ulang air, pengendalian polusi udara, stabilisasi tanah dan pencegahan erosi tanah. Pada tahun 1995 Elkington mengatakan bahwa dalam bentuk paling murni keberlanjutan dapat disimpulkan hanya dengan 3 kata yaitu Planet, People dan Profit yang mengukur nilai kesuksesan suatu perusahaan dengan tiga kriteria: ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Profit merupakan orientasi utama dalam mencari keuntungan agar mampu menjamin dan mempertahankan tujuannya. Sedangakan People dijelaskan sebagai setiap orang atau lingkungan masyarakat (community) di mana objek berada tersebut berada. Serta Planet merujuk kepada lingkungan fisik yang berhubungan dengan objek, misalnya lingkungan berdirinya objek (The Pennsylvania State University, 2018). Terdapat kegiatan atau aktivitas manusia/ekonomi pada area Danau Toba yang menyebabkan kegagalan dalam mencapai 3P antara lain:
- Penurunan level permukaan air danau yang teridentifikasi disebabkan oleh penebangan hutan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku PT.Indorayon dalam kegiatan industrinya,
- Budidaya keramba yang terus berkembang yang dimiliki oleh perusahaan asing. Limbah dari kandang dilepaskan secara bebas ke lingkungan Danau Toba yang akibat tidak diatur menyebabkan masalah lingkungan yang parah seperti polusi umum maupun kualitas air. Diperkirakan sepuluh ton makanan ikan setiap hari dibuang ke danau.
- Menjaga lingkungan yang bersih adalah salah satu aspek dari pengelolaan daerah aliran Danau Toba yang sangat terkait dengan perilaku masyarakat sekitar. Pihak yang tinggal di sekitar area Danau Toba menyalurkan limbah rumah tangga langsung ke danau dan polusi danau dari rumah tangga yang tidak diolah adalah masalah rumah tangga dan masyarakat, sehingga membutuhkan pengakuan faktor sosial dan budaya situasional tertentu.
Program yang dapat dilakukan dalam pengetahuan, tenologi dan inovasi dalam mencapai tujuan pada 3P antara lain: pengelolaan Teknologi Instalasi Pengolahan Air dan Instalasi Pengolahan Air Limbah untuk toilet, Gerakan Nasional Rehabiltasi Hutan dan Lahan (GERHAN) yang dilakukan oleh pemerintah di kawasan Danau Toba, dan manajemen program dan proses danau yaitu dengan membentuk Dewan Koordinasi Konservasi Ekosistem Danau Toba oleh Gubernur Sumatera Utara Tahun 2002 (Moedjojo, Simanjuntak, Hehanussa, & Lufiandi, 2017)
Berdasarkan di atas penulis berpendapata terdapat tantangan dan hambatan dalam melakukan pengembangan berkelanjutan pada area Danau Toba yaitu secara mendasar dari kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar Danau Toba.
Tantangan lainnya berasal dari keserakahan masyarakat yang lebih mengutamakan keuntungan (Profit) tanpa mempedulikan akibatnya terhadap lingkungan, Sebagai tambahan yaitu kurangnya pengetahuan dan pendidikan masyarakat yang akan berguna dalam menjaga kelestarian alam. Tantangan-tantangan yang telah disebutkan yang menyebabkan sehingga pembangunan berkelanjutan tidak dapat berjalan dengan baik.
References
Connolly, D. (2009). A Review of Energy Storage Technologies. Limerick: University of Limerick.
Dosi, G., & Nelson, R. R. (2013). THE EVOLUTION OF TECHNOLOGIES: AN ASSESSMENT OF THE STATE-OF-THE-ART. Eurasian Business Review, 3-46.
Gray, A. (2017, January 11). What new technologies carry the biggest risks? Retrieved from What new technologies carry the biggest risks? | World Economic Forum: https://www.weforum.org/agenda/2017/01/what-emerging-technologies-have-the-biggest-negative-consequences/
Wahab, S. A., Rose, R. C., & Osman, S. I. (2012, January 1). Defining the Concepts of Technology and Technology Transfer: A Literature Analysis. Semantic Scholar, 5(No 1), 62. Retrieved from http://dx.doi.org/10.5539/ibr.v5n1p61
Wilhite, A., & Lord, R. (2006). Estimating the Risk of Technology Development. Engineering Management Journal, 18(No. 3), 3.




Discussion about this post