Oleh :Dian Fitri Pakpahan, Mahasiswi Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Del
Saat ini, kita sedang menghadapi revolusi industri yang ke-4 yang dikenal dengan Revolusi Industri 4.0.
Ini merupakan era inovasi disruptif, dimana inovasi ini berkembang sangat pesat, sehingga mampu membantu terciptanya pasar baru.
Menghadapi tantangan yang besar tersebut maka pendidikan dituntut berubah juga. Termasuk pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Era pendidikan yang dipengaruhi oleh revolusi industri 4.0 disebut pendidikan 4.0.
Pendidikan 4.0 adalah istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun tidak.
Lompatan dari pendidikan 3.0 menurut Jeff Borden, pendidikan 3.0 mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan, penggunaan teknologi digital dan mobile berbasis web termasuk aplikasi dan perangkat keras dan lunak.
Pendidikan 4.0 adalah fenomena yang merespon kebutuhan munculnya revolusi industri keempat (4 IR) dimana manusia dan mesin diselaraskan untuk mendapatkan solusi, memecahkan masalah dan tentu saja menemukan kemungkinan inovasi baru.
Karekteristik di era revolusi industri 4.0 adalah meliputi digitalisasi, optimasi dan kostumasi produksi, otomatasi dan adaptasi, interaksi antara manusia dengan mesin, serta penggunaan teknologi informasi.
Presiden Joko Widodo meluncurkan gerakan “Making Indonesia 4.0” yang merupakan komitmen pemerintah memasuki era revolusi industri 4.0 ini.
Beberapa pihak mengungkapkan bahwa dunia pendidikan di Indonesia perlu juga mempersiapkan diri memasuki revolusi 4.0 ini dengan melakukan beberapa perubahan dalam menerapkan metode pembelajaran di sekolah, pertama yang fundamental adalah merubah sifat dan pola pikir anak didik, kedua bisa mengasah dan mengembangkan bakat anak dan yang ketiga lembaga pendidikan harus mampu mengubah model belajar disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Bintoro (2018) berpendapat bahwa generasi milenial harus dapat menghadapi pendidikan revolusi industri 4.0 diantaranya jangan pernah berhenti berinovasi, jangan “berlindung” dibawah regulasi, manfaatkan teknologi, jangan pernah merasa puas serta ciptakanlah hubungan yang “object oriented”.
Tjandrawinata (2016) mengatakan kemajuan teknologi memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir di semua bidang. Teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik, digital, dan biologi secara fundamental akan mengubah pola hidup dan interaksi manusia. Beberapa tantangan yang dihadapi pada era industri 4.0 yaitu masalah keamanan teknologi informasi, keandalan stabilitas mesin produksi, kurangnya keterampilan yang memadai, ketidakmampuan untuk berubah oleh pemangku kepentingan, dan hilangnya banyak pekerjaan karena berubah menjadi otomatisasi.
Dengan hilangnya banyak pekerjaan karena berubah menjadi otomotisasi, sehingga pengangguran menjadi ancaman yang akan terjadi, dimana tingkat pengangguran pada bulan Februari 2017 sebesar 5,33% atau 7,01 jiwa dari total 131,55 juta orang angkatan kerja (Sumber : BPPS 2017).
Untuk mengurangi tingkat pengangguran yang dimaksud, menurut penulis Dian Fitri Pakpahan perlu pemahaman dasar tentang revolusi industri 4.0 dalam dunia pendidikan baik jejang pendidikan dasar dan menegah agar dapat mengikuti perkembangan zaman dan dapat berinovasi, dan melatih kemampuan peserta didik agar tidak ketinggalan trend.
Menurut Mendikbud Muhadjir Effendy, bidang pendidikan perlu merevisi kurikulum dengan menambahkan lima kompetensi peserta didik dalam memasuki era revolusi 4.0 ini yaitu memiliki kemampuan berpikir kritis, memiliki kreatifitas dan kemampuan yang inovatif, memiliki kemampuan dan keterampilan berkomunikasi, bisa bekerja sama dan berkolaborasi serta memiliki kepercayaan diri.
Selain itu agar lulusan pendidikan nantinya bisa kompetitif maka kurikulum memerlukan orientasi baru tidak hanya cukup memahami literasi lama (membaca, menulis dan matematika) tetapi perlu memahami literasi era revolusi industri 4.0 yaitu literasi data dengan kemampuan untuk membaca , menanalisis dan menggunakan informasi di dunia digital.
Kedua literasi teknologi dengan cara memahami cara kerja mesin dan aplikasi teknologi dan yang ketiga literasi manusia dimana harus sanggup memahami aspek humanities, komunikasi dan desain.
Pertanyaan mungkin ada di benak kita, tentang siapkah kita memenuhi tuntunan sekaligus menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 dalam dunia pendidikan?
Beberapa hal mengenai sampai di mana pendidikan kita dan persiapan apa yang harus diperlukan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Kurikulum
Adanya penyelarasan pembelajaran dalam tataran praktik yang di sesuaikan pada kurikulum yang telah ada. Dimana kebijakan kurikulum 2013 telah mengelaborasi kemampuan siswa pada dimensi, kecakapan hidup, kolaborasi dan berpikir kritis dan kreatif.
2. Metode Belajar
Mensitumulus kemampuan siswa melalui beragam terobosan metode belajar konseptual yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, sehingga tidak sekedar berfokus pada pola lama-lama dan monoton pada pembelajaran yang minum akan kreativitas.
3. Penguasaan Data, Informasi dan Teknologi
Memfasilitasi siswa serta masyarakat pendidikan untuk dapat menguasai data dan informasi secara global, serta teknologi informasi yang dikolaborasi dengan menciptakan ruang-ruang kreativitas dan ragam peluang yang juga dapat memberikan keuntungan yang sifatnya luas.
Mari mamfaatkan teknologi sebaik mungkin, agar kita mampu bersaing dengan negara lain.
Semangat!!
Daftar Pustaka
Bintoro, Totok. 2018. Menjadi Guru Profesional di Era Revolusi Industri 4.0
Tjandrawina, R.R. (2016). Industri 4.0: Revolusi industri abad ini dan pengaruhnya pada bidang kesehatan dan bioteknologi. Jurnal Medicinus, Vol 29, Nomor 1, Edisi April.
Nur, Diyan. Mampukah Pendidikan Dapat Beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0?, Desember 1, 2018.




Discussion about this post