Tidak menentunya harga jual getah karet selama empat tahun ini menyebabkan banyak petani karet di Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara beralih menanam jagung.
Petani pun menumbang pohon karet agar ada lahan untuk menanam jagung karena dianggap lebih menjanjikan dari segi harga.
Lambok Simanjuntak, salah seorang petani karet menyebutkan tidak menentunya harga getah karet selama beberapa tahun ini menjadi penyebab petani beralih menanam jagung.
Dikatakannya tahun 2015 harga jual getah karet per kilogramnya mencapai Rp 15 ribu lebih dan saat itu perekonomian petani karet meningkat, sehingga masyarakat berlomba-lomba membuka lahan tidur untuk ditanami karet.
Akan tetapi empat tahun belakangan ini harga getah karet turun drastis menjadi Rp.8000,/kg, bahkan pernah menembus harga Rp.6000/kg.
“Akibatnya petani karet beralih mananam jagung,karena biaya perawatan tidak sesuai lagi dengan harga getah,” ucap Lambok.
Padahal menurutnya getah karet merupakan komoditi pertanian unggulan dari Kecamatan Garoga dan merupakan penghasilan utama masyarakat.
Namun harga jagung pun akhir-akhir ini sudah tidak stabil sehingga menjadi dilema bagi petani.
Kendati demikian Lambok berharap kepada pemerintah agar memberi perhatian supaya harga getah karet bisa stabil.
Kecamatan Garoga merupakan satu dari beberapa kecamatan penghasil getah karet di Kabupaten Tapanuli Utara.
Amatan di sejumlah lokasi petani sudah melakukan penebangan terhadap pohon-pohon karet dan beralih menanam jagung. (Maju Simanungkalit)




Discussion about this post