Namun sebelum sampai di perladangan mertuanya, Monang mendatangi rumah Tulangnya (paman) Jauba Sinaga di Tapian Nauli Desa Pardomuan Nauli Kecamatan Pangururan. Ia pun menanyakan pada Tulangnya apakah tidak pergi mengambil Happa( daun Keladi).
“Ai dang Mambuat Happa Hamu Tulang? (Apa tidak mengambil daun keladi tulang?),” Tanya Monang.
Jauba sinaga pun menjawab apakah di perladangan masih ada daun keladi. ” Ai adong dope haroa?” ( masih ada?).

Setelah Monang meyakinkan Jauba bahwa di ladang masih ada daun keladi, keduanya pun bergegas menuju perladangan dengan berjalan kaki.
Melewati jalan yang ditumbuhi rumput dan semak, keduanya pun sampai di perladanmgan. Namun sesampainya di ladang, Jauba Sinaga melihat melihat Akner Rumapea dan Istrinya Hetdi Br Tampubolon sedang mengambil daun sirih.
Jauba pun meneriakinya maling dalam bahasa daerah.”Panakko” teriak Jauba. Monang pun mendatangi Akner dan mempertanyakan kenapa mengambil daun sirih di sana.

“Boasa Buatonmu i?” tanyanya. Namun Akner menjawab terserah dia mengambil daun sirih di sana. ”Lomokku,” jawab Akner.
Sebilah parang yang sebelumnya dibawa Monang pun dicabut dari sarungnya. Lalu ia mengejar Akner Rumapea. Sementara Jauba menangkap Hetdi tampubolon, istri Akner.
Akner yang berusaha lari melihat Monang membawa parang tertangkap, ia terjatuh saat berusaha kabur. Sesingkat itu pula parang Monang mendarat tangan kiri Akner sebanyak dua kali tebasan dan bagian kepala satu kali.




Discussion about this post