Ribuan Warga Siantar Sholat Ied di Lapangan Haji Adam Malik
Ribuan warga Pematangsiantar mengikuti pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1440 H, di Lapangan H Adam Malik, Rabu (5/6).
Dalam khutbah dengan thema ‘Menjadi Mukmin yang Mengagumkan’, disampaikan, berakhirnya bulan Ramadhan, membuat jiwa mengalami dua perasaan sekaligus. Dua rasa itu yakni sedih dan gembira.
Sedih, katanya, karena Ramadhan terasa begitu sangat cepat berlalu. Padahal belum banyak amal yang dilakukan. Sedangkan tahun depan belum tentu bisa berjumpa lagi dengan bulan Ramadhan.
“Bukan karena Ramadhan tidak akan datang lagi. Tapi usia kita yang tidak sampai ke Ramadhan yang akan datang,” katanya.
Meskipun demikian, sambungnya, ada rasa gembira karena dengan ibadah Ramadhan yang kita laksanakan, ada harapan besar yang bisa diraih.
“Yakni ampunan dosa dari Allah SWT, dan dikembalikan seperti saat baru dilahirkan. Sehingga bukan hanya dosa yang terhapus, tapi kita juga memiliki Tauhid atau Akidah yang mantap,”
Masih dalam khutbah, sejak Indonesia merdeka hingga saat ini, selalu dihantui dengan berbagai persoalan. Satu masalah belum selesai, sudah muncul masalah baru yang lebih banyak dan lebih berat.
“Berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, hingga badai, dirasakan sebagai persoalan yang amat berat.,” tukasnya.
Dari sisi ekonomi, lanjutnya, masyarakat bertambah miskin. Tingkat kemiskinan yang semakin besar, dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru, yang bisa menyebabkan kerendahan akhlak, termasuk penurunan kualitas iman.
Lebih lanju dikatakan, ibadah Ramadhan yang baru saja dilewati, pada hakekatnya adalah Tarbiyah untuk iman, atau pembinaan iman. Tujuannya, agar iman menjelma menjadi ketakwaan kepada Allah SWT. Karenanya, ibadah puasa diwajibkan kepada yang beriman.
Selain itu, bahwa di dalam Alquran, Allah SWT menyebut dan memuji umat Islam yang telah beriman kepada-Nya, sebagai umat yang terbaik. Namun, sambungnya, yang perlu direnungkan lagi, apakah sudah sesuai antara sebutan dengan kenyataan sehari-hari.
“Rasanya masih terjadi kesenjangan yang sangat tajam antara idealita dengan realitanya,” ujarnya.
Di samping itu, lanjutnya, menjadi seorang Mukmin merupakan sebuah pilihan tepat. Persoalannya, adalah bagaimana agar kita dapat menunjukkan kepribadian yang mengagumkan. (*)




Discussion about this post