Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya, memproyesikan The Kaldera – Toba Nomadic Escape sebagai destinasi luxury nomadic (pengembara mewah). Artinya, targetan jangka panjang The Kaldera adalah menjadi destinasi yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah yang memanjakan pengunjung.
Namun untuk tahap awal, Arief memahami jika The Kaldera belum bisa mencapai harapan tersebut.
“Kira-kira, saya memproyeksikan The Kaldera ini sebagai luxury nomadic. Tapi ditahap awal, memang tidak mmungkin dan tidak semudah itu,” ujar Menteri Arief dalam sambutannya saat Peluncuran The Kaldera – Toba Nomadic Escpae di Desa Sibisa, Kecamatan Ajibata, Toba Samosir pada Kamis, 4 April 2019.
Arief menjelaskan jika secara global, pengunjung destinasi nomadic terbagi dalam 3 kategori. Pertama adalah glam packer, yaitu anak muda yang suka mengembara. Kedua, luxury packer, yaitu wisatawan yang suka fasilitas mewah. Serta digital nomadic, yaitu pekerja lepas yang memanfaatkan teknologi dan tidak terikat oleh waktu dan tempat.
Namun untuk mencapai targetan pengunjung kategori luxury packer, Arief mengatakan bukan sesuatu yang mudah. Apalagi sebagai destinasi yang baru diluncurkan, butuh waktu yang lebih lama dan brand destination yang lebih kuat. Sehingga ditahap awal, Arief menyatakan konsentrasi pengunjung di The Kaldera lebih menyasar wisatawan kategori glam packer hingga 50 persen. Selanjutnya kategori luxury packer sebesar 30 persen dan sisanya masuk menyasar wisawatan digital nomadic.
Meski demikian, targetan yang disampaikan Arief berkaitan dengan luxury packer tidak berlebihan bukannya tanpa alasan. Dari data yang disampaikan Arief, pengunjung kategori glam packer mendominasi dengan jumlah sekitar 22 juta pengunjung.
“Luxury packer sekitar 7 juta pengunjung. Tapi dari yang 7 juta ini, pendapatannya bisa sekitar US 27 milyar dollar. Walhasil, itu pasarnya besar sekali,” sebut Arief.
Sementara itu, Arief juga menyinggung terkait proses pengembangan The Kaldera. Dirinya menyebut proses pengembangan destinasi dengan lahan seluas 386,7 hektar tersebut akan mengacu dari Nusa Dua di Bali.
“Kalau mau mudah membayangkan, akan seperti Nusa Dua dan Mandalika. Nanti investor akan datang dan kita sebagai pemilik lahan. Jadi pengurusan izin hanya ada satu pintu,” ungkap Arief.
Bagi para investor, Arief juga merincikan akan ada diberikan dua fasilitas. Pertama, terkait fiskal, yaitu semua pajak ditiadakan selama masa konstruksi. Sedangkan yang kedua terkait non fiskal, yaitu Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).
“Contohnya, jika kita ingin membangun di Nusa Dua,tidak perlu kemana-mana. Datang saja ke kantor ITDC (Indonesia Tourism Development Corporation). Perlu tanah 5 atau 6 hektar, perizinan selesai dalam sehari. Tidak ada kekhawatiran tanahnya tidak clean dan clear,” pungkas Arief.




Discussion about this post