Aktivis kemanusiaan Natalius Pigai menyatakan Danau Toba, salahsatu potensi wisata di Indonesia bagian barat khususnya Sumatera utara. Selain didukung oleh mobilitas wisatawan melalui moda transportasi Bandara Silangit juga melalui hubungan transportasi darat.
“Tapi, bagaimana mungkin, negara ini bisa meyakinkan dunia international bahwa wisata di Danau Toba aman dan nyaman, jika negara ini terkesan tidak bertanggungjawab terhadap warga negara kita sendiri,” katanya, kepada Waspada setibanya di Kualanamu International Airport (KNIA), Selasa (24/7) pukul 16:00 WIB.
Pernyataan Natalius Pigai terkait, pasca tenggelamnya, KM Sinar Bangun 18 Juni 2018 lalu, di Perairan Danau Toba. Kasus tersebut akan dibahas lebih lengkap di Medan, Rabu (25/7).
Disebutkannya, permasalahan yang menelan ratusan korban jiwa tengelamnnya KM Sinar Bangun sangat ironi, di negeri sebesar ini sampai pemerintah angkat tangan dengan menghentikan pencarian jenazah, dengan alasan kedalaman mencapai 450 meter.
“Penghentian pengangkatan jenazah hanya karena alasan kedalaman dan Indonesia tidak memiliki alat untuk sampai kedalaman tersebut,” cetusnya.
Padahal, sesuai dengan Undang Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang pelayaran menegaskan, pemerintah mempunyai tugas untuk melakukan evakuasi baik korban yang hidup maupun korban meninggal dunia yang tenggelam di laut, sungai maupun danau.




Discussion about this post