Momentum Hari Bumi dan HUT ke-155 Pematangsiantar dimanfaatkan untuk menggugah kesadaran publik: sungai bukan sekadar aliran air, tetapi sumber kehidupan yang wajib dijaga bersama.
Komitmen menjaga lingkungan hidup ditunjukkan secara nyata oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pematangsiantar, Arri Suaswandhy Sembiring, yang turun langsung memimpin Aksi Bersih Sungai di kawasan Taman Kehati, Sabtu (25/4/2026).
Kegiatan ini semakin kuat gaungnya dengan kehadiran Wakil Wali Kota Pematangsiantar, Herlina, yang ikut berbaur bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), komunitas pecinta lingkungan, serta masyarakat dalam membersihkan aliran sungai dari sampah dan limbah.
Aksi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Bumi sekaligus menyemarakkan Hari Jadi ke-155 Kota Pematangsiantar. Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan gerakan nyata yang menyentuh kesadaran publik.
Arri Sembiring menegaskan bahwa menjaga kebersihan sungai bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan kewajiban bersama seluruh elemen masyarakat.
> “Sungai bukan hanya air yang mengalir. Ia adalah pelindung, sumber kehidupan, dan bagian dari masa depan kita. Menjaganya bukan sekadar wacana, tetapi harus menjadi aksi nyata,” tegasnya.
Senada dengan itu, Wakil Wali Kota Herlina berharap kegiatan ini mampu menjadi pemantik kesadaran kolektif masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan, khususnya keberlangsungan ekosistem sungai di Kota Pematangsiantar.
Suasana kebersamaan tampak kental dalam kegiatan tersebut. Para peserta terlihat bergandengan tangan, memungut sampah, serta membersihkan bantaran sungai dengan penuh semangat.
Lebih dari sekadar aksi bersih, kegiatan ini juga membawa pesan moral yang kuat:
apakah kita rela mewariskan sungai yang tercemar kepada generasi mendatang?*
Pertanyaan itu menjadi refleksi mendalam bagi semua pihak bahwa kerusakan lingkungan bukanlah warisan yang layak diberikan.
Dengan semangat Hari Bumi dan usia ke-155 Kota Pematangsiantar, seluruh elemen masyarakat diajak untuk menjadikan kota ini sebagai “rumah bersama” yang harus dijaga, dirawat, dan dilestarikan.
Pematangsiantar adalah rumah kita. Sudah saatnya kita menjaganya—bersama.



