Siswi SMA yang masih berusia 16 tahun ketahuan membuang bayi yang baru dilahirkannya ke WC/kloset puskesmas. Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, sebelum dibuang ke WC, bayi tersebut terlebih dahulu dicekik.
Peristiwa tersebut terjadi di Puskesmas Kauman, Jalan Soekarno Hatta, Tulungagung, Kamis (10/1) malam. Hanya saja perbuatan keji itu terbongkar karena tubuh bayi tersangkut di kloset.
Untuk mengeluarkan bayi, kloset harus dibongkar. Meski sudah diupayakan, namun nyawa bayi tak tertolong.
“Peristiwa berawal saat E, ibunya yang masih berusia 16 tahun, diantar orangtuanya ke puskesmas karena mengeluh sakit perut hingga nyeri pinggang. Saat itu petugas Puskesmas meminta ibu bayi untuk istirahat dan menunggu observasi,” kata Kasubbag Humas Polres Tulungagung, AKP Sumaji, kemarin.
Namun kemudian E menuju kamar mandi puskesmas dengan alasan ingin buang air besar. Saat berada di kamar mandi itulah E melahirkan. Petugas puskesmas baru mengetahui setelah ibu E melaporkan kejadian itu dan meminta tolong ke tenaga medis.
Ibu E curiga karena anaknya terlalu lama berada di dalam kamar mandi. Ibu E kemudian mengetuk pintu kamar mandi, dan dibukakan oleh anaknya.
“Saat ibu dari E memberitahu petugas Puskesmas, anaknya sudah melahirkan di kamar mandi, sedangkan posisi bayi separuh badannya masuk ke kloset,” ujarnya.
E sendiri membantah hamil. Untuk menutupi kondisi yang sebenarnya, E mengenakan pakaian besar dan jaket. Postur tubuh E juga agak gemuk.
“Sekilas memang tidak kelihatan kalau sedang hamil, karena posturnya agak gemuk, sedangkan dia juga pakai baju besar dan jaket. Tapi setelah dibuka oleh petugas kelihatan perutnya besar, namun dia tetap membantah hamil,” kata Kepala Puskesmas Kauman, Tulungagung, Aris Setiawan.
Saat itu pasien sempat mengaku tidak menstruasi, namun tetap membantah hamil. Dia beralibi tidak datang bulan lantaran mengonsumsi obat untuk sakit kalenjar getah bening yang diderita.
“Karena pasien tidak hamil, kami tidak mungkin memeriksa lebih dalam menyangkut kandungan, kemudian pasien kami lakukan observasi,” ujar Aris.
Aris sendiri menemukan fakta dari kasus tersebut. Fakta yang dinilai tidak wajar dalam proses persalinan normal pada umumnya.
Aris mengatakan, beberapa fakta tersebut di antaranya adalah terputusnya tali pusar saat bayi ditemukan. Padahal untuk memutus tali pusar dibutuhkan benda tajam lantaran kondisinya yang kuat.
“Kalau hanya ditarik apalagi kondisi pasien masih lemas kelihatannya tidak mungkin, karena tali pusar itu kuat, jadi harus pakai alat. Kami masih belum tahu apakah dia bawa alat untuk memotong atau digigit,” kata Aris.
Fakta lain adalah posisi bayi saat ditemukan di dalam toilet, kedua kaki bayi dan sebagian badan berada di dalam lubang kloset, sedangkan bagian kepala dan tangah di luar lubang. Kondisi ini mengindikasikan tidak mungkin bayi tersebut keluar dari rahim dan langsung masuk ke kloset.
“Karena kalau secara normal bayi itu keluar pasti kepalanya, memang ada kemungkinan tidak demikian tapi kecil. Terkait ini kami tidak berani menyimpulkan, karena yang bersangkutan tidak pernah periksa kehamilan sebelumnya, apakah sungsang atau tidak,” imbuh Aris.
Sedangkan menurut Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Tulungagung, Ipda Retno Puji, kondisi bayi saat pertama kali ditemukan dalam kondisi bersih, hal ini diduga akibat disiram oleh ibu bayi.
“Tubuhnya sudah bersih yang ada darahnya itu di sekitar ibu bayi, karena posisi berdiri dan darah terus mengucur,” kata Retno di Polres Trenggalek.
//Akhirnya Mengaku
Polisi terus melakukan pemeriksaan terhadap E. Hasilnya, pelaku yang merupakan ibu kandung bayi mengakui seluruh perbuatannya.
Kasatreskrim Polres Tulungagung AKP Hendro Tri Wahyono mengatakan dari pemeriksaan pihaknya mendapat keterangan rinci terkait detik-detik persalinan yang dilakukan oleh E hingga eksekusi bayinya.
“Menurut pengakuan dari pelaku, saat bayi itu keluar dipegang dengan tangan kiri, pelaku ini memegang bayi sambil mencekik lehernya. Kemudian bayi itu dibawa di atas kloset kemudian di siram sebanyak lima kali,” kata Hendro, Sabtu (12/1).
Upaya penyiraman tersebut diduga dilakukan agar bayinya tidak menangis, lantaran takut ketahuan orang lain. Masih berdasar dari pengakuan pelaku, saat proses penyiraman air kelima, bayi berjenis kelamin perempuan itu terjatuh separuh badannya masuk ke dalam lubang kloset.
“Kami masih perlu menggali lebih dalam keterangan pelaku, terkait penyiraman air dan jatuhnya bayi itu,” jelasnya.
Hendro menambahkan, dari hasil olah tempat kejadian perkara, pihaknya tidak menemukan tanda-tanda adanya upaya dari pelaku untuk mengambil bayinya yang masuk ke lubang kloset. Bahkan posisi cenderung masuk lebih dalam hingga tidak bisa ditarik keluar lagi.
“Tanda-tanda upaya mengambil lagi kelihatannya tidak ada,” imbuh AKP Hendro.
Pengakuan pelaku tersebut sinkron dengan hasil autopsi yang dilakukan tim dokter forensik Polda Jatim dari RS Bhayangkara Kediri. Dari proses autopsi, bayi malang itu mati lemas akibat adanya cekikan pada bagian leher, selain itu dokter juga menemukan adanya luka dalam pada bagian perut akibat masuk kloset.




Discussion about this post