Jerit tangis perpisahan terakhir, sebelum jenazah Yanto Simbolon diantarkan ke tempat peristirahatan yang abadi. Kerabat keluarga dan teman sekampung memenuhi rumah adat Batak Toba kediaman orangtuanya di Huta Sosor Simbolon Desa Sianting-anting Pangururan, Kabupaten Samosir, Jumat (27/12/2019).
Kedua orangtua Yanto dan keluarga inti duduk berajar menghadap peti jenazah, ratapan dan jerit tangis memenuhi ruangan yang tak terlalu luas itu.
Dilansir dari tribunnews.com, Ibu Yanto, Oppu Monika Boru Sinurat menangis tak henti-henti di hadapan jasad anaknya.
Lihat postingan ini di Instagram
“Bereng ma akka dongan mu on amang, nungga ro mangida ho ala ni burju mi. Nungga di son sude, dungo ma ho. (Lihatlah teman dan kerabag keluarga kita nak (Yanto). Sudah datang melihat kamu, karena mengingat kebaikanmu. Semua sudah di sini, bangunlah Nak!,”ucap ibunya sembari meluapkan tangisnya.
Yanti Tobing, yang semestinya duduk di pelaminan bersama Yanto pun terlihat duduk meratap di sisi kaki peti jenazah.
“Dang Boi Huselamathon ho sayang, dang marrokkap huroha hita. Sonang ma ho hasianhu, cintakku. Tangianghon ahu sayang, i boto ho do songon dia sayanghu tu ho. Sonang ma ho da di Surgo i (Tak bisa kuselamatkan kau sayang, tampaknya kita tidak berjodoh. Tenanglah kau sayangku, cintaku. Doakan aku sayang, kau tahu bagaimana sayangku kepadamu. Tenanglah kau di Surga,” ratap Yanti dalam Bahasa Batak.
Suasana sedih makin memuncak saat orangtua calon mempelai pengantin wanita, Yanti Fitri Lumbantobing dan rombongan memasuki rumah duka.
Kata perpisahan dari keluarga yanti tobing pun mengingatkan rencana pernikahan Yanto dengan putri mereka yang seharusnya terlaksana pada Jumat 3 Januari 2020 nanti.
“Tarhirim ahu di baehen ho Yanto. Ale nuaeg on lebih tarhirin borukku on di baehen hi naung diparsitta ho gabe uluanna.(Aku pernah berharap kepadamu Yanto. Tapi sekarang keingingan putriku agar kau jadi kepala rumah tangganya pupus sudah,”ujarnya.
“Ale Yanto, nungga sonang ho di labbung ni tuhan ta. Patulus ma lakkam, di na so boi hu pakkulingi ho. Ale di partoddion mu, marsipakkulingan hita. Borhat ma ho amang, manatap ma toddim tu hami.(Yanto, sekarang kau telah tenang di samping Yang Maha Kuasa, tuluskanlah langkahmu, meski kau tak bisa kuajak berbicara lagi. Pergilah nak dalam damai, jiwamulah yang melihat kami,”tambahnya lagi.
Lihat postingan ini di Instagram
Kepada kedua orang tua Almarhum juga Tobing mencurahkan perasannya sembari memberi penguatan. Serta berharap tidak putus ikatan kekeluargaan.
Mengingat pesta layaknya adat Batak, Tobing selaku orang tua perempuan harus memberikan “Ulos Passamot” kepada memplai pria. Tangisnya pun diluapkannya lantaran tidak mungkin lagi menerima ulos passamot dalam rangkaian adat pernihakan yang direncanakan.
“Di namasa on, dang hujalo be ulos passamot i. Ale songon dia ma. Ale pos ma rohatta, ikkon leanon ni Tuhan i ma na ubbalga sian Tuhan i hu ho (Dalam kejadian ini, tak lagi aku menerima “ulos Passamot”, mau bagaimana lagi. Tapi, percayalah Tuhan akan memberikan yang terbaik kepada kita,”jelasnya.
Kayu Salib bertuliskan “RIP Yanto Simbolon, Tubu 5-1-1986, Monding 25-12-2019” pun diusung mendahului iringan pengantar jenazah ke pemakaman. Yanto disakrameni secara agama Katolik oleh Pastor dan diantarkan ke pemakaman sekitar 100 meter dari rumahnya. Yanto pun menghadap sang kuasa dengan kain pengantin yang dimasukkan ke dalam peti jenazahnya.




Discussion about this post