Bayangan wanita cantik bak bidadari sering muncul di dua air terjun yang berada di Nagari Sikucua Utara, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Bahkan saat difoto, di lokasi air terjun sering muncul warna pelangi.
Namun keberadaan air terjun tersebut selama ini tersembunyi. Barulah, beberapa bulan lalu, ditemukan Kopda Ulil Amri, Babinsa Nagari Sikucua Utara bersama warga, saat melaksanakan Napak Tilas dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Penemuan air terjun tersebut diharapkan tidak hanya mendorong alternatif wisata, namun membuka roda perekonomian serta kelestarian alam di Nagari Sikucua Utara, Padang Pariaman.
Dandim 0308/Pariaman, Letkol Arm Heri Pujiyanto, dalam rilis tertulisnya di Kabupaten Padang Pariaman, Kamis (16/1) menerangkan, penemuan air terjun yang kemudian diberi nama Duo Bidadari, berawal ketika Kopda Ulil Amri melaksanakan Napak Tilas bersama warga di hutan Nagari Sikucua Utara.
“Ketika itu dalam rangka peringatan HUT ke-74 RI. Bersama warga, perangkat nagari, tokoh masyarakat, Wali Korong, pemuda/pemudi dan masyarakat, Kopda Ulil menyusuri jalan setapak ke dalam hutan, “ujar Heri.
Setelah satu jam perjalanan, lanjut Heri, mereka menemukan air terjun yang selama ini tidak diketahui banyak orang.
“Dari semula napak tilas, spontan berubah menjadi upacara pengibaran bendera memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan RI di lokasi itu,” ucapnya.
“Kebetulan dalam perjalanan memang sudah membawa bendera merah lutih,” tambah Heri.
Ditambahkan pula, nama Duo Bidadari muncul dari ide Ulil Amri, yang melihat ada dua batu dan dua air terjun yang airnya begitu bersih.
“Nama tersebut diterima masyarakat karena cocok dengan keindahan saat berfoto. Terkadang muncul bayangan wanita cantik bagaikan bidadari, bahkan saat foto di air terjun muncul warna pelangi,” terangnya.
Selanjutnya, kata Heri, Ulil berinisiatif dan berembug dengan Wali Nagari, Mayunis Alima, untuk mengembangkan destinasi wisata yang belum terjamah ini.
“Inisiatif Kopda Ulil ini disambut baik, karena dengan adanya air terjun ini tidak hanya menyediakan alternatif wisata, namun juga dapat mendorong meningkatkan perekonomian warga serta turut serta menjaga kelestarian alam,” tandasnya.
Heri menegaskan, dengan adanya tekad bersama warga setempat, maka selaku Dandim, dirinyamenggelar karya bakti untuk perbaikan jalan, juga sarana lainnya di sekitar air terjun.
Kodim 0308/Pariaman melaksanakan karya bakti Binter (Pembinaan Teritorial) di Nagari Sikucua Utara, Kecamatan V Koto Kampung Dalam.
“Sebelumnya jika melewati hutan, jalanan terjal dan licin, butuh waktu sekitar 30 menit. Namun, setelah akses jalan dibuja oleh Koramil 06/Kampung Dalam, untuk sampai ke objek wisata kini bisa ditempuh hanya dalam waktu 5 menit,” tuturnya.
Selaras dengan disampaikan Dandim, Danramil 06/Kampung Dalam, Kapten Inf Syamsuwarno mengatakan, dalam karya bakti tersebut mereka membuka jalan 4 × 800 meter.
“Memang jaraknya hanya 800 meter, tapi kondisinya sangat sulit dilalui, sehingga masyarakat jarang mengunjungi air terjun tersebut,” ujar Syamsuwarno.
“Alhamdulillah, jika sebelumnya butuh waktu sekitar 30 menit, sekarang dalam waktu 5 menit saja, para pengunjung bisa menikmati keindahan air terjun,” sambungnya.
Ulil, bapak tiga anak ini mengungkapkan rasa bangga atas kerja sama dan kebersamaan warga dalam mengembangkan air terjun Duo Bidadari.
“Sayang potensi besar seperti ini belum kita optimalkan, apalagi dukungan dari warga sangat besar. Bahkan untuk memperlancar akses menuju Duo Bidadari ini, warga mengikhlaskan tanah miliknya untuk kita buka jalan,” katanya.
“Ke depan, diharapkan obyek wisata ini dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat dan kelestarian alam,” imbuh suami dari Eva Susilowati itu.
Tidak hanya membuka keterisoliran, program Pembinaan Teritorial (Binter) Terpadu 2019 yang dilakukan oleh Kodim 0308/Pariaman menyibak harapan masa depan warga yang akan lebih baik.
Bahagia dan bangga terhadap TNI pun terucapkan oleh warga. Salah satunya Norma, lansia berusia 85 tahun dan tidak fasih berbahasa Indonesia.
“Sajak jaman karengko, alah 85 tahun umua, akhirnyo tibo juo kasudahannyo oto ka kampuang kito. Tarimo kasih ambo ka apak-apak TNI nan tak tahinggo. Jalan nan babuek an untuak kami”._ (Sejak zaman dulu, kini usia saya sudah 85, baru kini mobil bisa masuk ke kampung saya. Terima kasih Pak Tentara. Sudah membuat jalan bagus untuk kampung kami menuju air terjun ini),” kata Norma.
Norma berkisah, sebelum jalan di kampungnya diperbaiki TNI, selama puluhan tahun, dia dan warga lainnya hanya bisa berjalan kaki sambil menjunjung hasil kebun di kepala.
“Kini dengan jalan yang bagus, masyarakat bisa menggunakan roda dua bahkan roda empat untuk mengangkut hasil bumi. Bahkan air terjun ini pun kini ramai dikunjungi para wisatawan,” tuturnya.
Norma mendoakan Ulil Amri dan anggota yang lainnya, agar selalu diberi kemudahan, panjang umur, diberi rejeki yang banyak dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
“Sebagai kenang-kenangan akan kerja keras Nak Ulil Amri, saya minta berfoto dengan petugas keamanan berbaju loreng tersebut. Bahagia benar saya sekarang ini,” pungkasnya. (*)




Discussion about this post