Dari sekian banyak keluarga korban tenggelamnya KM Sinar bangun di ada yang menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Pemerintah Pusat, Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Simalungun, atas keperduliannya terhadap para keluarga korban.
KM Sinar Bangun tenggelam di perairan Danau Toba pada Senin (18/6) lalu, pemerintah hingga saat ini masih melakukan monitoring terhadap keluarga korban.
Hal tersebut diungkapkan oleh Renti Br Panjaitan (43) istri dari korban Hotman Manik. Kepada wartawan ia mengatakan sudah iklhlas.
“Kami sudah ikhlas, atas kejadian yang menimpa suami saya”,ujarnya dengan nada berat.
Tampak sisa sisa kepedihan atas kehilangan sosok suami bagi 5 orang anak-anaknya.
“Kami menyampaikan ucapan terima kasih kami kepada pemerintah yang sudah memberikan perhatian yang lebih terhadap kami dan sudah bersusah payah mencari keberadaan suami saya. Sekarang kami sudah ikhlas,” tambahnya lagi, saat ditemui di Nagori Pamatang Sidamanik, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Jumat (20/7) sekitar pukul 13.00 WIB.

Selanjutnya sekira pukul 14.30 WIB, wartawan kembali mendatangi keluarga korban lainnya, di Dusun Manik Huluan, Nagori Sait Buttu Saribu, Kecamatan Pamatang Sidamanik, dirumah Salam (39) ayah dari korban Syahlama Febriani, tampak berkumpul Mamin (65) orang tua dari korban Suyeni (anak), Wagino (anak) dan Riki Dirgantara (cucu). Kemudian, Muntira (48) orang tua dari korban Doni Septian (anak) dan Juniko (anak) dan Ariansyah (Menantu), selanjutnya Suryani (47) orangtua dari korban Maya Safitri (anak).
Dihadapanwartawan, Salam yang mewakili dari ketiga keluarga korban lainnya menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah, yang telah berupaya selama 16 hari mencari keluarganya yang menjadi korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Perairan Danau Toba.
Beratnya Medan lokasi posisi para korban sehingga para sanak keluarganya yang menjadi korban tidak bisa dievakuasi, sangat dimaklumi oleh pihak keluarganya.
“Basarnas dan Pemerintah sudah sangat berusaha untuk mengevakuasi keluarga kami, tapi karena lokasi kedalamannya tidak memungkinkan, maka kami ikhlas mereka (korban, keluarga) tidak dapat dievakuasi,” jelasnya. (Sawal)

Discussion about this post