Ngadimin (64) nekad mengakhiri hidupnya karena diduga mengalami depresi atas sakit yang dideritanya selama 1,5 tahun terakhir. Dengan seutas tali yang diikatkan di pohon Kakao dan bangku, warga Lingkungan 06 Kulon, Kelurahan Bosar Maligas, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, ini mengakhiri hidupnya.
Aksi nekad yang dilakukan Ngadimin ini, berawal saat istrinya Tuginem (61) merasa curiga karena suaminya tak kunjung pulang karena seperti biasanya suaminya disaat pagi hari berolahraga pagi. Ia mengetahui suaminya pergi keluar rumah pada Sabtu (28/07/2018) sekira pukul 05.30 WIB.
Namun, hingga pukul 06.00 WIB, suaminya juga belum pulang ke rumah. Hingga membuat Tuginem merasa cemas dan mencari suaminya ke samping dan depan rumah. Tepat di depan rumah, tepatnya berjarak sekitar 30 meter ia melihat suaminya tergantung dengan seutas tali tambang.
Tuginem terkejut melihat suaminya yang selama ini menderita penyakit stroke dan darah tinggi itu gantung diri. Kemudian, ia meminta pertolongan warga untuk menurunkan Ngadimin.
AKP Rahidin Siregar, Kapolsek Bosar Maligas membenarkan kejadian tersebut dan pihaknya sudah mengambil keterangan keluarga korban dan keluarga korban menolak untuk dilakukan otopsi. (Sawal)




Discussion about this post