Jenazah Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho akan dipulangkan dari China hari ini. Jenazahnya akan dimakamkan di Boyolali, Jawa Tengah.
“Untuk pemakaman, permintaan dari bapak-ibu pak Topo itu dimakamkan di Boyolali. Permintaan Pak Topo sendiri dimakamkan di Pondok Ranggon. Jadi istrinya pak Topo mengikuti keinginan dari orangtua Pak Topo, jadi opsi pertama adalah di Boyolali,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo saat dihubungi, Minggu (7/7/2019).
Sutopo tutup usia di Guangzhou, China Minggu dini hari pada pukul 02.00 waktu setempat. Sutopo meninggal dalam perjuangannya melawan kanker paru-paru. Ia didiagnosis di sekitar awal Desember 2017.
Sutopo terbang ke Guangzhou pada Juni 2019 lalu. Doni mengatakan BNPB telah berusaha maksimal demi kesembuhan Sutopo hingga mengirim Sutopo ke negeri tirai bambu itu.
Seperti dilansir detik.com, “Pak Topo diberangkatkan ke Guangzou karena beberapa pasien kanker itu sembuh di Guangzhou, setelah melewati di beberapa tahun pengobatan di Jakarta, di beberapa rumah sakit,” ungkapnya.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) juga memfasilitasi pemulangan jenazah Sutopo. KJRI di Guangzhou saat ini tengah melakukan proses untuk pemulangan jenazah.
“Mudah-mudahan bisa diproses hari ini ya, lagi diproses oleh KJRI kita di Guangzhou,” ujar Juru Bicara Kemlu Teuku Faizasyah saat dihubungi sebelumnya.
Bagi para jurnalis nama Sutopo Purwo Nugrogo, sudah tak asing lagi. Ia adalah Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Di tengah gencarnya hoaks tak bertanggung jawab serta minimnya pengetahuan orang awam soal kebencanaan, Sutopo BNPB adalah suara yang paling ‘kredibel’ dan dapat dipercaya dalam penyebaran informasi terkait bencana alam di Indonesia.
Sebagai kepala pusat data dan informasi serta humas, tugas Sutopo Purwo Nugroho adalah menyampaikan kebenaran terkait data, informasi setiap bencana yang ada di bumi Nusantara. Maka tak salah, apabila Sutopo sangat aktif di media sosial membagikan berbagai informasi sekecil dan cepat apapun terkait kebencanaan.
Namun keaktifan Sutopo Purwo Nugroho kini tak lagi bisa dilihat maupun didengar. Pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah itu kini telah menghadap kepada sang Pencipta.
Sutopo lulus Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1993 dan mengawali kariernya pada 1994 dengan bekerja sebagai peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Kemudian Ia merampungkan pendidikan MSc dan PhD pada 2008 lalu di Institut Pertanian Bogor di bidang hidrologi. Sutopo mulai menghiasi segala bentuk informasi di BNPB sejak Agustus 2010 lalu hingga sekarang.
Mahasiswa Berprestasi
Sutopo Purwo Nugroho yang merupakan anak pertama dari pasangan Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari sejak kecil hidup prihatin. Bersama orangtuanya yang berprofesi sebagai guru tinggal di Boyolali dengan mengontrak rumah gedek atau rumah dari bambu.
Setelah menamatkan SD, SMP dan SMA di Boyolali, ia melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Tak hanya memiliki kerendahan hati, Sutopo Purwo Nugroho adalah sosok yang memiliki intelektual tinggi. Hal itu terbukti ia menjadi lulusan terbaik di fakultasnya sewaktu di UGM.
Tercatat ia telah menulis lebih dari 100 jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional serta sejumlah buku.
Meski terbaring sakit Sutopo tetap menjalankan tugasnya memberikan informasi terkait kebencanaan di Indonesia. Tak ayal hal itu memantik rasa simpati dan hari para warganet.
Warganet pun banyak memberikan apresiasi maupun mendoakan agar Sutopo Purwo Nugroho disembuhkan dari sakitnya.
Kini, cuitan informatif dari pak Topo tak bisa lagi dilihat maupun di dengar. Namun dedikasinya menjadi inspirasi besar bagi seluruh warga Indonesia, khususnya soal kebencanaan. Selamat jalan pak Topo!




Discussion about this post