Salman Al Farici, lulusan Program Studi Antropologi Sosial di Universitas Sumatera Utara (USU), yang pada masa studinya aktif mengikuti berbagai kegiatan sukarelawan lintas bidang. Pembicaraan soal kesetaraan gender hadir sejak ia akhirnya bergabung dalam proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) USU dengan topik Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 5, yakni Gender Equality (Kesetaraan Gender).
Kepeduliannya terhadap realitas terkait kesetaraan gender membawanya bergabung dalam United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women) Indonesia sebagai Youth Advocate. UN Women mendorongnya untuk merealisasikan gerakan-gerakan sosial yang berdampak pada masyarakat. Dengan itu, hadirlah sebuah proyek bernama Boneka Kita. Sebagai Child Education Initiative dengan tagline “Empowering North Sumatra’s Youth with Culturally-rooted Sexual Education”, Boneka Kita menjadi wadah untuk memberikan prevensi kekerasan seksual pada anak, khususnya daerah Sumatera Utara.
Mendapat dukungan dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Republik Indonesia (Kemendukbangga RI), United Nations Population Fund (UNFPA), serta pihak kampus, proyek Boneka Kita berhasil direalisasikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Deli Serdang. Saat ini, proyek ini masih terus berjalan dengan penerapan oleh Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di sekolah tersebut.
Dalam pelaksanaannya, Salman dan tim mengupayakan berbagai pendekatan ramah anak untuk menciptakan lingkungan yang interaktif. Mulai memberikan edukasi literasi terkait kekerasan seksual, sensitif gender, mengenali ciri-ciri pelaku, hingga cara melindungi diri. Metode yang digunakan juga tidak kalah menarik, seperti Focus Group Discussion (FGD), di mana para siswa akan diberikan suatu studi kasus dan mendiskusikannya bersama. Selain itu, ada debat antarsiswa menggunakan topik yang relevan dengan kekerasan seksual untuk melatih mental dan pemahaman siswa-siswi akan pentingnya edukasi seksual sejak dini.
Keterlibatan dalam UN Women tidak hanya mendorong Salman untuk merealisasikan program yang berdampak bagi masyarakat, tetapi juga memengaruhi cara pandangnya terhadap perempuan dan kesetaraan gender. Pemahaman tersebut kemudian ia bawa ke lingkungan terdekatnya, termasuk dalam interaksi sehari-hari bersama teman-temannya.
“Gerakan kecil yang aku lakukan adalah kalau dalam kelompok kuliah, itu minimal ada satu perempuan. Bahkan penelitian pun, aku mau dosen pembimbingnya ada perempuan. Sesimpel untuk menegaskan kalau perempuan itu ada,” ungkapnya.
Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari Salman juga berani angkat suara, salah satunya ketika masih ada teman perempuannya yang sulit menyalurkan kemampuan sesuai dengan bidang pekerjaannya karena anggapan bahwa perempuan tidak bisa kerja berat, tidak bisa pulang malam, dan hal-hal lainnya masih terasa. Konsistensinya dalam menyuarakan perihal perempuan dan kesetaraan gender tidak serta-merta soal membela laki-laki atau perempuan, tetapi memperjuangkan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan di semua bidang.
“Laki-laki dan perempuan akan selalu hidup berdampingan. Untuk kemudian tidak saling mematahkan, itu yang ingin dikejar dari isu. Lalu, terdengar klise sekali, tetapi bagaimana kita dapat menghargai Tuhan dan diri kita sendiri kalau kita tidak menghargai sumber kehidupan itu sendiri, yaitu perempuan. Anak lahir dari perempuan, menyusui ke perempuan, terkadang ada Ibu yang rela banting tulang untuk perempuan,” tutupnya.



