Acara “Horja Bius” digelar di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara selama dua hari mulai Jumat (29/11). Di hari kedua yang merupakan puncak acara, Sabtu (30/11) digelar kegiatan “Mangalahat Horbo”.
Dalam kegiatan itu, seekor kerbau diarak ke tengah halaman rumah adat Batak oleh kelompok Raja-raja Bius. Daulat Ambarita yang berstatus boru/menantu dari marga Parna dalam Raja Bius Tomok, diberi tugas memimpin eksekusi kerbau yang telah ditambatkan.
Diiringi tetabuhan gendang Batak “gondang sabangunan” kerbau jantan ditambatkan di “borotan” (sebatang kayu yang ditancapkan berdiri) sambil dikelilingi orang-orang yang menari (manortor). Sementara itu, dari mulut hingga leher kerbau yang dijadikan pelean/persembahan itu, diikat menggunakan rotan yang dijalin seukuran jari orang dewasa.

Sebelum kerbau dieksekusi atau “mangalahat” (menyembelih dengan tombak) oleh Daulat Ambarita, para Raja Bius 8 marga yang ada di Tomok dipersilahkan melakukan “marsatti” (membuat persembahan) sekaligus mangaliat (manortor berkeliling). Dalam kesempatan ini, para Raja Bius mengajak etnis di luar Batak seperti Jawa yang sudah tinggal di Tomok untuk manortor, termasuk wisatawan yang berada di lokasi acara.
Sekitar pukul 15.30 WIB, kerbau yang disebut “horbo lae-lae” mulai dieksekusi. Ama Tiarlin Sijabat, penganut kepercayaan Parmalim sekaligus sebagai tetua, “manguras” atau menyucikan kerbau di borotan menggunakan percikan air jeruk purut.
Selanjutnya, kerbau diserahkan kepada Daulat Ambarita. Dengan memegang sebilah tombak sambil manortor, Daulat mengelilingi kerbau tersebut. Kemudian,
ujung tombak diarahkan ke leher kerbau, dan diikuti para eksekutor lainnya yang melanjutkan penyembelihan.
Selanjutnya, kerbau yang sudah tidak bernyawa itu dikuliti untuk dimasak. Kepala kerbau dan bagian-bagian khusus dipisahkan untuk parjambaron (jatah adat) Raja dan warga.
Ketua Panitia Pelaksana “Horja Bius” tahun 2019, Amput Sidabutar menceritakan, kerbau sengaja dipilih yang usianya tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Hilangnya nafas kerbau, katanya, diharapkan membawa hilangnya segala bala atau kejadian-kejadian tak diinginkan di Bius Tomok.
Diterangkan Amput Sidabutar, di hari pertama kegiatan “Horja Bius”, Jumat (29/11), warga dari dua desa mengenakan pakaian adat Batak lengkap dengan ulos berziarah ke makam Raja Sidabutar yang merupakan penguasa Tomok. Prosesi ini merupakan awal dari diselenggarakannya ritual “Horja Bius” yang merupakan upacara adat Batak Toba, khususnya di Bius Tomok.
Amput Sidabutar menjelaskan, dalam ziara tersebut, sekaligus dipanjatkan doa kepada Tuhan Maha Pencipta. Selanjutnya, warga menuju tepian Danau Toba untuk berdoa kepada “Saniang Naga Laut” yang biasanya disapa “Namboru” selaku titisan Tuhan yang berkuasa atas air, khususnya Danau Toba.
Masih kata Amput Sidabutar, “Horja Bius Tomok” ini sesuai tradisi leluhur secara turun-temurun digelar oleh “Raja Bius, Raja Na Ualu” (Raja 8 marga yang merupakan warga Tomok). Empat dari delapan marga itu merupakan marga Parna dan empat lainnya di luar Parna.
Dulu, lanjut Amput Sidabutar, ritual “Horja Bius” digelar bila hasil pertanian dan peternakan tidak memadai. lalu, “Raja Bius, Raja Na Ualu” sepakat melaksanakan upacara adat atau musyawarah dengan harapan dapat menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi. Dalam hal tersebut, pemegang tampuk kekuasaan adalah marga Sidabutar.
“Dalam pelaksanaannya, para Raja Bius menghadirkan “Datu” atau ahli spiritual yang mampu menerawang apa yang akan terjadi, serta apa yang harus dihindari sehingga bala bisa dijauhkan. Datu juga akan berpesan tentang apa yang selayaknya dikerjakan untuk melengkapi nazar yang sudah dilaksanakan,” terang salah seorang personil Marsada Band tersebut.
Doa yang disampaikan di Danau Toba, katanya, agar musibah dijauhkan dari Danau Toba. Dan warga di sekitar Danau Toba diberkati dan diberi kesehatan. Termasuk para wisatawan agar dijauhkan dari bahaya.
Masih kata Amput Sidabutar, dalam ritual yang mereka lakukan, seekor kambing putih disembelih kemudian, disediakan ikan (Ihan) Batak, Napinadar, Itak Gurgur, dan Itak Nahinopingan (makanan tradisional Batak berbahan tepung beras), sirih, dan lainnya. Barang-barang tersebut dipersembahkan kepada “Debata Mulajadi Nabolon” Tuhan Maha Pencipta.
Sementara itu, eksekutor penyembelihan kerbau menerangkan, daging kerbau dipotong-potong sesuai peruntukan jambar. Sedangkan bumbu dapur untuk memasak daging kerbau disiapkan oleh kaum ibu dan muda-mudi.
Masih kata Daulat, “Horja Bius” adalah perkumpulan yang mengatur tatanan pemerintahan dan spiritual pada satu kampung tempo dulu. Biasanya, kata dia, ritual “Horja Bius” dilaksanakan untuk memohon hujan dan kesuburan pertanian.
“Dulunya ini untuk memohon kesuburan pertanian dan menjauhkan musibah, seperti kemarau berkepanjangan, atau mangido gabe na ni ula, sinur na pinahan manang mangido udan,” terang pria yang akrab disapa Ama Swando Ambarita ini.
Disebutkannya, dalam ritual itu, seluruh warga kampung yang diayomi Bius Tomok harus hadir.
Masih kata Daulat, ia dan mereka yang posisinya sebagai Boru dalam ritual tersebut bertugas mendirikan borotan hingga mengeksekusi kerbau. Juga menghidangkan daging kerbau yang sudah dimasak untuk disantap bersama.
Setelah rangkaian ritual berjalan, seluruh warga kembali berkumpul di halaman. Makan bersama pun digelar sebagai penutup kegiatan. (*)




Discussion about this post